Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Suku di Filipina Memiliki DNA Manusia Denisovan Terkuat

📅 Selasa, 24 Agu 2021, 00:00 WIB | Oleh:
Suku di Filipina Memiliki DNA Manusia Denisovan Terkuat Doc: istimewa

Penelitian oleh ilmuwan dari Universitas Uppsala terhadap suku Ayta Magbukon menjelaskan ada beberapa spesies manusia purba Denisovan yang menghuni Filipina sebelum kedatangan Homo sapiens modern.
Menurut studi yang diterbitkan pada jurnal Current Biology edisi 12 Agustus lalu, kelompok pribumi ini memiliki DNA Denisovan 30 hingga 40 persen lebih banyak daripada kelompok lain dari suku Aborigin di Australia dan suku di Papua.
Denisovan adalah nama sekelompok manusia purba yang pertama kali diidentifikasi dari satu tulang kelingking di sebuah gua Siberia. Denisovan diperkirakan hidup berdampingan dengan manusia modern atau Homo sapiens modern dan juga spesies Neanderthal, selama ratusan ribu tahun.
Namun sekitar 30.000 hingga 50.000 tahun yang lalu manusia purba itu dinyatakan punah.
Sejauh ini hanya penduduk Kepulauan Pasifik dan Asia Tenggara yang memiliki keturunan Denisovan yang substansial. Sebagai perbandingan, kebanyakan orang di bagian lain daratan Asia memiliki kurang dari 0,05 persen keturunan Denisovan, dan orang-orang keturunan Afrika dan Eropa tidak memilikinya sama sekali.
"Ayta Magbukon memiliki lebih banyak nenek moyang Denisovan daripada siapapun di planet ini saat ini," kata ahli biologi dari Universitas Uppsala Swedia, Mattias Jakobsson. "Jadi itu kejutan bagi kami," ujar dia kepada Gizmodo.
Jakobsson memaparkan, penelitian tersebut dilakukan sebagai studi lanjutan dari studi sebelumnya yang mempelajari migrasi manusia ke Filipina. Mereka ingin memotret lebih jauh menilai tingkat DNA manusia purba di antara populasi apalagi beberapa populasi di wilayah ini sebelumnya memiliki tingkat yang tinggi.
"Tingkat nenek moyang Denisovan dan pulau Asia Tenggara itu diketahui dihuni oleh berbagai spesies purba Homo," kata ahli genetika populasi dan rekan penulis studi Maximilian Larena.
Analisis Genom
Untuk melakukan ini, para peneliti menganalisis genom dari 1.107 individu yang termasuk dalam 118 kelompok etnis berbeda di Filipina termasuk 25 kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai "Negritos" yang dianggap sebagai manusia modern paling awal di Filipina, menurut studi tersebut.
Dengan membandingkan genom ini dengan genom Denisovan dan Neanderthal, peneliti menemukan, meskipun tingkat nenek moyang Neanderthal cukup seragam dalam populasi penelitian mereka atau sebanding dengan manusia modern di bagian lain dunia, namun tingkat keturunan Denisovan sangat bervariasi, dan jauh lebih tinggi di antara orang Negrito daripada di kelompok lain.
"Temuan ini konsisten dengan model acara kawin silang independen antara Negritos dan Denisovan di Filipina, menunjukkan bahwa Denisovan mungkin telah berada di pulau-pulau jauh sebelum kehadiran kelompok etnis manusia modern mana pun," kata Larena.
Ahli paleogenetik Universitas Tubingen, Cosimo Posth, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada Science News bahwa laporan baru menunjukkan masih ada populasi yang belum sepenuhnya dijelaskan secara genetik dan Denisovan tersebar luas secara geografis.
Saat ini, catatan fosil Denisovan sangat jarang, dan tidak dapat diidentifikasi hanya dengan morfologi. Mereka harus diurutkan secara genetik, yang bisa jadi sangat sulit terutama karena mengekstraksi fosil yang berasal dari iklim tropis biasanya DNA telah rusak.
Dengan adanya bukti dari komunitas Ayta Magbukon maka semakin kemungkinan keberadaan fosil Denisovan cukup kuat. "Semakin meningkatkan kecurigaan saya bahwa fosil Denisovan bersembunyi di depan mata," kata ahli genetika populasi Universitas Adelaide João Teixeira yang tidak terlibat dengan penelitian ini.
"Ketika datang ke Asia Tenggara dan kepulauan Asia Tenggara, kami memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban karena kami tidak memiliki catatan arkeologi yang baik," kata ahli genetika populasi University of Colorado Boulder, Fernando Villanea.
Villanea, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menambahkan, sekarang dunia memiliki temuan genetik yang luar biasa ini dan mengalami kesulitan menyusun cerita yang kohesif. Apalagi spesimen Denisonan masih belum ditemukan terutama di Asia Tenggara karena kurangnya penelitian.
"Dengan mengurutkan lebih banyak genom di masa depan, kita akan memiliki resolusi yang lebih baik dalam menjawab banyak pertanyaan, termasuk bagaimana warisan kuno mempengaruhi biologi kita dan bagaimana hal itu berkontribusi pada adaptasi kita sebagai spesies," kata Larena. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Impor Pelumas RI Tembus Ribuan Ton, Menperin Resmikan Pabrik Raksasa Shell, Libatkan 50 Vendor Lokal
    Kehadiran fasilitas produksi berkapasitas 12.000 ton per tahun ...
  • Pameran Fi Asia Indonesia 2026 Perluas Akses Industri terhadap Teknologi Pangan Global
    Ulasan yang sangat mencerahkan terutama pada pandangan Dr. ...
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Ekonomi
Barantin: Ekspor Florikultu...
Luar Negeri
WHO Ajukan Pendanaan Tambah...

Banjir Bandang Menerjang 22 Desa Aceh

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Banjir Bandang Menerjang 22...
Advertisement
Kecelakaan KM Virgo Jadi Perhatian Internasional, Hong Kong dan AS Bantu Operasi “Salvage”

Kecelakaan KM Virgo Jadi Perhatian Internasional, Hong Kong dan AS Bantu Operasi “Salvage”

17 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.