Bukan Debu Biasa: Mitigasi Kesehatan di Tengah Erupsi Gunung Api
📅 Minggu, 06 Sep 2026, 21:27 WIB | Oleh: SujarDi negeri dengan 127 gunung api aktif, kemampuan membaca status gunung api perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membaca sinyal tubuh. Batuk setelah hujan abu, mata yang terus terasa nyeri, mengi pada penderita asma, atau sesak napas yang memburuk tidak semestinya dinormalisasi sebagai “bagian dari bencana”.
Mitigasi kesehatan berarti tetap waspada tanpa panik dan melindungi diri tanpa meremehkan risiko. Sebab, abu yang tampak tipis di halaman tidak selalu berarti risikonya ikut tipis.
*) Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen di UNTS, peneliti, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!