Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bukan Debu Biasa: Mitigasi Kesehatan di Tengah Erupsi Gunung Api

📅 Minggu, 06 Sep 2026, 21:27 WIB | Oleh:
Bukan Debu Biasa: Mitigasi Kesehatan di Tengah Erupsi Gunung Api Doc: ANTARA/Ardiansyah
Ket. Petugas Kepolisian Direktorat Pam Ovit Polda Lampung membagikan masker kepada warga di Bandar Lampung, Lampung, Minggu (6/9). Aksi Pembagian masker kepada warga terebut dilakukan karena dampak dari abu vulkanik akibat erupsi dari Anak Gunung Krakatau.

JAKARTA -- Ketika gunung api meletus, perhatian publik umumnya terfokus pada kolom erupsi, awan panas, radius bahaya, dan jalur evakuasi.

Padahal, ada ancaman lain yang turun nyaris tanpa bersuara: hujan abu yang menyelimuti atap rumah, jalanan, fasilitas umum, hingga sumber air. Warnanya kelabu dan sekilas tampak seperti debu biasa. Di situlah masalahnya, abu vulkanik bukan debu biasa.

Secara geologis, abu vulkanik terdiri dari fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berskala mikroskopis (diameter di bawah dua milimeter). Abu ini bukan sisa pembakaran seperti abu kayu, melainkan material padat yang keras, tajam, dan abrasif. Partikel halusnya sangat mudah terbawa angin hingga puluhan kilometer dan rentan terhirup masuk ke dalam saluran pernapasan.

Mengingat Indonesia, menurut Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), memiliki 127 gunung api aktif, masyarakat tidak hanya dituntut paham kapan harus mengungsi. Edukasi mengenai cara meminimalkan paparan abu vulkanik, baik saat erupsi berlangsung maupun pasca-bencana, menjadi krusial untuk melindungi kesehatan.

Dampak kesehatan akibat abu vulkanik sangat bervariasi pada setiap orang. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran partikel, konsentrasi di udara, durasi paparan, komposisi kimia, kondisi cuaca, hingga tingkat kerentanan individu. Pada orang sehat, paparan singkat umumnya memicu iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, hingga napas terasa berat.

Namun, risikonya jauh lebih tinggi bagi penderita asma, bronkitis kronis, PPOK, dan penyakit kardiovaskular. Kelompok ini rentan mengalami sesak napas berat, mengi, serta peningkatan kebutuhan obat pelega. Selain itu, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis membutuhkan perlindungan ekstra karena keterbatasan mereka dalam menghindari paparan maupun mengakses fasilitas kesehatan.

Mata menjadi salah satu organ yang paling cepat bereaksi. Partikel tajam abu dapat menyebabkan gatal, kemerahan, mata berair, hingga luka gores pada kornea. Karena itu, penggunaan lensa kontak sangat dilarang saat hujan abu dan wajib diganti dengan kacamata pelindung (goggles).

WHO juga mengingatkan bahwa erupsi mengganggu akses air bersih, pangan, serta layanan kesehatan, menjadikan krisis ini jauh lebih luas daripada sekadar masalah pernapasan dan mata perih.

Bahaya setelah langit kembali cerah

Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi adalah menganggap ancaman telah usai begitu hujan abu berhenti. Padahal, abu yang sudah mengendap sangat mudah terangkat kembali oleh angin, lalu lintas kendaraan, maupun aktivitas menyapu. Akibatnya, risiko paparan terus berulang meski aktivitas erupsi mulai mereda. Oleh sebab itu, tata cara pembersihan abu menjadi bagian vital dari mitigasi bencana.

Selama ini, pembagian masker kerap menjadi bentuk respons yang paling menonjol. Langkah ini memang penting, tetapi dapat memicu rasa aman palsu seolah ancaman otomatis mereda setelah memakai masker. Padahal, benteng perlindungan paling utama adalah meminimalkan paparan langsung dengan abu vulkanik.

Selama kondisi memungkinkan, masyarakat diimbau tetap berada di dalam ruangan yang aman, menutup rapat pintu dan jendela, serta membatasi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa beraktivitas di luar atau membersihkan endapan abu, gunakan respirator partikulat (seperti N95) dengan ukuran yang pas dan terpasang rapat.

Perlu diingat, respirator ini hanya menyaring partikel dan tidak mampu menahan gas beracun. Jika otoritas menginstruksikan evakuasi akibat ancaman gas berbahaya, awan panas, atau lahar, penggunaan masker bukanlah alasan untuk menunda mengungsi.

Selain itu, penggunaan respirator N95 dewasa tidak efektif bagi anak-anak karena ukurannya yang longgar. Penderita penyakit jantung dan paru kronis juga perlu berhati-hati karena hambatan bernapas saat menggunakan respirator rapat dapat memperburuk kondisi mereka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, Jakarta Kena Sebaran Abu Vulkanik
    Sangat mungkin terjadi erupsi yg lebih besar, kemarin ...
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
  • Sapi Aceh Dibawa ke Pulau Terluar, Aceh Besar Bidik Ketahanan Pangan
    Kenapa harus ke pulau aceh pengembangan plasma nutfah ...
  • Aturan Insentif Motor Listrik Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Rancangan Perpres
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai urgensi payung hukum ...
  • Magang Nasional 2026 Tahap II Dibuka, Anak Muda Berebut Kesempatan Masuk Industri
    Kesenjangan kompetensi yang menjadi latar belakang program Magang ...
Advertisement
Shin Tae-yong Jumawa Persija Hanya Pakai Kekuatan 50% saat Kalahkan Borneo, Awas Kesandung Coach!

Shin Tae-yong Jumawa Persija Hanya Pakai Kekuatan 50% saat Kalahkan Borneo, Awas Kesandung Coach!

06 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.