Global Hadapi Higher for Longer, Destry Ingatkan BI: Moneter Saja Tak Cukup
📅 Kamis, 03 Sep 2026, 23:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Rizka Khaerunnisa.
JAKARTA – Di tengah kompleksitas tantangan global, kebijakan moneter menghadapi ujian untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
Gejolak geopolitik, tekanan inflasi, perubahan arah suku bunga negara maju, serta volatilitas pasar keuangan membuat ruang gerak bank sentral semakin terbatas.
Bank Indonesia pun perlu mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas Rupiah dan inflasi, sembari memastikan likuiditas serta pembiayaan tetap mampu menopang aktivitas ekonomi domestik.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan bank sentral Indonesia saat ini tidak cukup apabila hanya mengandalkan kebijakan moneter di tengah tantangan global yang semakin kompleks, sementara domestik membutuhkan dorongan untuk pertumbuhan.
“Ruang ini masih ada, masih besar (ruang pertumbuhan ekonomi). Tapi kalau kita hanya mengandalkan kebijakan moneter itu pasti tidak akan cukup karena di satu sisi kita menghadapi situasi higher for longer dari global,” kata Destry dalam acara Saresehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9).
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menjelaskan bahwa negara-negara maju, seperti Eropa dan Amerika Serikat (AS), secara umum menghadapi inflasi yang tinggi sehingga peluang penurunan suku bunga akan semakin kecil.
Kemudian, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun juga meningkat berada di kisaran 4,5-4,6 persen dari kondisi normal yang dalam kisaran 3 persen.
Indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) juga semakin meningkat. Sementara pertumbuhan ekonomi AS mengalami perlambatan dibanding periode sebelumnya.
“Ini kondisi yang kalau misalnya kita lihat cuma inflasi saja naik, Amerika harus menaikkan suku bunga, itu pasti pertimbangannya tidak akan semudah itu, karena dia akan menekan ekonomi dan sebagainya. Jadi artinya, apa yang dihadapi oleh kita sekarang ini permasalahan semakin kompleks karena keterkaitan satu isu dengan isu lain itu makin tinggi,” jelas Destry.
Dalam situasi seperti sekarang, Destry mengatakan instrumen suku bunga atau BI-Rate saja tidak cukup untuk kebijakan domestik. Apabila suku bunga global semakin meningkat, Indonesia tetap membutuhkan inflow sehingga bank sentral harus mengupayakan strategi agar aset rupiah tetap menarik bagi investor asing.
Di sisi lain, ia menambahkan bahwa ekonomi Indonesia masih berada di bawah potensinya sehingga pertumbuhan yang lebih tinggi masih terbuka lebar. Dengan demikian, BI tidak bisa hanya mengandalkan BI-Rate semata di tengah situasi global yang higher for longer.
“Jadi apa yang kita lakukan? Kita kombinasi dengan kebijakan kita lainnya yaitu kebijakan makroprudensial,” kata Destry.
Ia menambahkan bahwa saat ini bank sentral tengah mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Giro wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank umum konvensional sebenarnya efektif berada di level 9 persen, namun bank sentral telah memberikan insentif sehingga terjadi penurunan GWM di mana kelebihan likuiditas tersebut dikembalikan kepada perbankan agar disalurkan ke sektor prioritas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!