Era Suku Bunga Tinggi Mengancam, BI Siapkan Jurus Baru
📅 Rabu, 02 Sep 2026, 22:10 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Situasi higher for longer kembali menjadi perhatian pasar ketika suku bunga tinggi diperkirakan bertahan lebih lama akibat tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Kondisi ini dapat memperkuat daya tarik aset berdenominasi dolar AS, sekaligus meningkatkan biaya pembiayaan dan menekan ruang pelonggaran kebijakan moneter di negara berkembang.
Bagi Indonesia, situasi tersebut menjadi tantangan karena berpotensi memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, serta momentum pertumbuhan ekonomi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan bahwa bank sentral tetap memperhitungkan situasi higher for longer, termasuk tingginya imbal hasil (yield) global bond, di dalam pembuatan kebijakan-kebijakan domestik.
Berdasarkan asesmen terakhir bank sentral, Destry mengamini berlangsungnya kondisi higher for longer, termasuk bond yield, inflasi, dan suku bunga yang tinggi di negara maju.
“Ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik. Jadi faktor-faktor global itu akan sangat juga mempengaruhi banyak latar belakang kami nanti dalam membuat kebijakan domestik. Jadi bahwa kita akan tetap memperhatikan itu,” kata Destry saat menyampaikan keterangan pers di Gedung Mahkamah Agung Jakarta, Rabu.
Lebih lanjut, Destry menegaskan bahwa stance kebijakan bank sentral saat ini masih fokus pada stabilitas. Apabila Indonesia memiliki perekonomian yang stabil, ia menegaskan bahwa ruang-ruang untuk pertumbuhan ekonomi menjadi semakin luas.
Dalam hal ini, BI akan tetap menyeimbangkan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Selain itu, kebijakan lainnya juga terkait dengan UMKM, ekonomi keuangan syariah, serta pendalaman pasar keuangan.
“Tentunya di kebijakan itu kita akan bermain, mana yang akan lebih pro-stability, mana yang akan lebih pro-growth,” kata Destry.
Dalam hal kebijakan yang pro-growth, ia mencontohkan bagaimana bank sentral selama ini telah memberikan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) kepada bank-bank agar menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas.
“Jadi kombinasi, atau kami sebutnya bauran kebijakan, itu yang akan tetap menjadi tools bagi kita dalam merumuskan suatu kebijakan,” kata Destry.
Destry Damayanti resmi dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2026-2031, setelah mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Ketua Mahkamah Agung (MA) Sunarto di Jakarta, Rabu.
Pada kesempatan yang sama, Aida S. Budiman juga mengucapkan sumpah jabatan sebagai Deputi Gubernur Senior BI serta Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI.
Pelantikan ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 92/P Tahun 2026 tanggal 1 September 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!