Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mau Konsisten Kurangi Kemiskinan, Beri Ruang Masyarakat Naik Kelas Secara Ekonomi

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Mau Konsisten Kurangi Kemiskinan, Beri Ruang Masyarakat Naik Kelas Secara Ekonomi Doc: istimewa
Ket. APBN 2027 - Fiskal Harus Bergeser dari Sekadar Bantuan Jadi Penguatan Kapasitas Ekonomi

» Pengurangan kemiskinan akan efektif melalui desentralisasi dan demokratisasi ekonomi, termasuk anggaran.

JAKARTA - Pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 harus lebih terarah untuk memperkuat sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan rakyat, seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), koperasi, petani dan nelayan. Hal itu penting, jika Pemerintah serius ingin menurunkan kemiskinan dengan benar dan merata. 

Guru Besar Sosiologi Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto, mengatakan, target menurunkan angka kemiskinan menjadi 6 sampai 6,5 persen tentu harus didukung. Tetapi pemerintah juga perlu melihat bagaimana APBN bisa lebih kuat mendorong ekonomi kerakyatan.

Intinya jelas Bagong, Pemerintah harus menjadikan ekonomi kerakyatan sebagai bagian penting dari strategi menurunkan jumlah angka kemiskinan. APBN katanya, jangan hanya dipakai untuk menjaga stabilitas, tetapi juga harus menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat secara langsung.

“Mereka ini (petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil) yang sebenarnya punya peran besar dalam menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi di daerah,” katanya.

APBN tambah Bagong harus menjadi instrumen untuk membangun ekonomi kerakyatan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi penting, tetapi yang lebih penting adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar sampai ke masyarakat.

“Kalau ingin angka kemiskinan turun secara konsisten, masyarakat harus diberi ruang dan kemampuan untuk naik kelas secara ekonomi. Pemerintah jangan hanya memberikan bantuan ketika masyarakat sudah jatuh miskin, tetapi juga membangun ekosistem agar mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik,” pungkasnya.

Diminta pada waktu terpisah, Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa, menilai kebijakan fiskal harus bergeser dari sekadar bantuan menjadi penguatan kapasitas ekonomi masyarakat miskin.

Menurut Awan, kunci penurunan kemiskinan ada pada peningkatan daya beli. Karena itu ia mendorong adanya terobosan fiskal dan program struktural yang menyasar langsung ke kelompok miskin produktif.

“Salah satu alternatifnya, sebagian skema bantuan sosial dapat ditransformasikan dalam bentuk kepemilikan saham (share) perusahaan publik/negara oleh penduduk miskin,” terang Awan.

Model seperti itu, bisa dipadukan dengan penciptaan lapangan kerja melalui program padat karya dan pembentukan perusahaan sosial. Pada skema tersebut, sebagian saham dimiliki penduduk miskin, tapi fokus usahanya padat karya bukan padat modal agar mampu menyerap tenaga kerja secara luas.

“Perusahaan padat karya ini tujuannya meningkatkan daya beli. Kalau hanya mengandalkan bantuan pangan dari pusat, pertanyaannya: apakah kemiskinan bisa teratasi?" tegasnya.

Sentralisasi Anggaran

Dalam kesempatan itu, Awan juga menyoroti struktur anggaran yang masih terpusat. Saat ini mayoritas perputaran APBN ada di pusat, sementara daerah hanya sisanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
KCIC Kembangkan Dua Akses B...

FIVB Gelar Kursus Pelatih Level I dan II di Sentul

38 menit yang lalu | Benny Mudesta Putra

Olahraga
FIVB Gelar Kursus Pelatih L...
Luar Negeri
FAO Serukan Kerja Sama Glob...
Advertisement
Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.