AS Pertimbangkan Akhiri Perang dan Beri Tekanan Ekonomi ke Iran
📅 Jumat, 04 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SWASHINGTON - Wall Street Journal (WSJ) pada Rabu (3/9) melaporkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump secara pribadi diberitakan sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri perang dengan Iran, meskipun Pentagon diam-diam memperpanjang penempatan pasukan di Timur Tengah.
Surat kabar tersebut melaporkan bahwa Trump telah berdiskusi dengan para penasihat senior untuk mengeluarkan pernyataan mengenai “berakhirnya perang dengan Iran,” sebuah langkah yang dilaporkan didukung presiden.
Trump percaya bahwa memberikan tekanan ekonomi yang intens akan memaksa Teheran membongkar program nuklirnya atau meruntuhkan pemerintahannya.
Amerika Serikat meluncurkan Operasi Economic Outcast pekan lalu, yang menargetkan jalur ekonomi utama Iran, termasuk sektor minyak, pelayaran, penerbangan, emas, teknologi, dan aset digital.
Meski ada diskusi privat tersebut, Pentagon tetap memperpanjang penempatan pasukan sebagai tanda bahwa perang bisa berlarut “hingga tahun depan’.
Militer AS mempertahankan 50.000 pasukan dan 19 kapal perang, termasuk dua kapal induk dan 13 kapal perusak berpemandu misil, untuk memberikan fleksibilitas operasional kepada presiden.
Eskalasi terbaru bermula setelah Amerika Serikat menyerang sasaran di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz, pada 31 Agustus. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal terhadap sejumlah posisi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Tanker for Tanker
Amerika Serikat selanjutnya menyerang sejumlah sasaran lain di Iran, termasuk dua kapal tanker yang disebut milik pemerintah Iran. Menurut laporan yang dikutip dari Axios, serangan terhadap kapal tanker tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang disebut “tanker for tanker”.
Iran kemudian melancarkan serangan terhadap aset militer Amerika di sejumlah negara kawasan. Situasi tersebut membuat Selat Hormuz kembali menjadi salah satu titik utama konflik karena merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi global.
Dampaknya mulai terlihat di pasar minyak. Harga minyak Brent pada Kamis (3/9) sempat mencapai sekitar 97 dollar AS per barel setelah naik 1,8 persen, sedangkan West Texas Intermediate berada di sekitar 92,92 dollar AS per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Di Iran, media pemerintah melaporkan sedikitnya 19 orang tewas dalam serangkaian serangan AS terbaru. Korban disebut terdiri dari personel militer dan warga sipil.
Dengan perkembangan tersebut, rencana Trump untuk menyatakan perang berakhir belum berarti penghentian operasi militer. Washington justru mempertahankan kekuatan militer besar di kawasan sambil meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!