Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global

📅 Senin, 21 Sep 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global Doc: ANTARA/SYIFA YULINNAS
Ket. Petani memperlihatkan biji pinang saat proses penjemuran di Desa Blang Beurandang, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (19/9). Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mencatat dari 1.298,46 hektare luas area perkebunan pinang yang tersebar di 12 kecamatan mampu memproduksi biji pinang kering sebanyak 195,31-230,32 ton per tahun.

JAKARTA – Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai pusat produksi, inovasi, dan investasi pangan di tingkat global karena ditopang solidnya industri manufaktur, kekayaan sumber daya alam, dan besarnya pasar domestik. Namun, saat ini tantangan semakin kompleks, bukan hanya soal harga tetapi juga standar keamanan dan mutu yang kian ketat di pasar ekspor.

Berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis World Bank, nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai 275,61 miliar dollar AS. Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan tertinggi di Asia Tenggara, mengungguli Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai nilai pangan global. “Industri manufaktur kita semakin solid. Ke depan, kekuatan ini harus diterjemahkan menjadi produk yang bernilai tambah, berkualitas, inovatif, dan berdaya saing di pasar global,” ujar Faisol saat pembukaan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta tengah pekan lalu.

Menurut Faisol, industri makanan dan minuman (mamin) adalah sektor strategis dalam struktur manufaktur nasional. Pemerintah, kata dia, berkomitmen membangun ekosistem industri pangan yang halal, sehat, inovatif, dan berkelanjutan.

“Penyelenggaraan Fi Asia 2026 menjadi momentum penting untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan mitra internasional dalam memperkuat kolaborasi, termasuk transfer teknologi dan pengetahuan,” jelasnya.

Kemenperin menargetkan ekspor produk mamin mencapai 83,08 miliar dollar AS pada 2029 dengan rata-rata pertumbuhan 10,9 persen per tahun. Untuk mencapai itu, kebijakan difokuskan pada percepatan hilirisasi berbasis sumber daya alam lokal, peningkatan utilisasi pabrik hingga 70 persen, peningkatan ekspor produk hilir bernilai tambah tinggi, serta perluasan penetrasi ke 20 negara tujuan ekspor baru di kawasan Amerika, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan.

Kinerja Solid

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan perkembangan industri mamin perlu diselaraskan dengan perubahan perilaku konsumen. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi juga kandungan gizi, keamanan pangan, kualitas bahan baku, dan keberlanjutan.

“Industri harus terus beradaptasi dengan menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, termasuk dari sisi kesehatan, keamanan, kualitas, dan keberlanjutan,” ujar Putu.

Pada Semester I-2026, industri mamin tumbuh 6,77 persen dan memberikan kontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas serta 7,16 persen terhadap PDB nasional. Di tengah kinerja tersebut, industri pangan menghadapi tuntutan pasar global yang semakin kompleks.

Persyaratan perdagangan tidak lagi hanya berkaitan dengan harga dan kapasitas produksi, tetapi juga keamanan pangan, standar mutu, jejak lingkungan, serta tuntutan terhadap produk yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (1)

Marketing VALTEKINDO
Marketing VALTEKINDO
21 Sep 2026, 13:13 WIB.

Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia yang menembus peringkat ke-12 dunia versi World Bank dengan nilai tambah 275,61 miliar dollar AS, di mana capaian ini memang harus menjadi momentum strategis bagi sektor industri makanan dan minuman untuk tidak sekadar mengejar volume ekspor semata, melainkan mulai memprioritaskan pemenuhan standar keamanan pangan, ketertelusuran bahan baku, serta keberlanjutan proses produksi agar mampu bersaing secara tangguh di 20 negara tujuan ekspor baru yang ditargetkan pemerintah.

Balas
Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.