Kabut Asap Karhutla Jadi Pembunuh Diam-Diam, Pakar Ungkap Bahayanya
📅 Selasa, 25 Agu 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim PenulisKedua, mengurangi aktivitas di luar ruangan. Aktivitas fisik berat membuat seseorang bernapas lebih cepat dan dalam sehingga jumlah partikel yang masuk ke paru-paru dapat meningkat.
Ketiga, menutup pintu dan jendela untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Keempat, memastikan tubuh mendapatkan cukup cairan dengan minum air putih.
Kelima, membilas mata menggunakan air bersih apabila mengalami iritasi atau rasa perih.
Keenam, segera mendapatkan pertolongan medis apabila muncul gejala berat seperti nyeri dada, jantung berdebar, sesak napas, atau pusing secara tiba-tiba.
Ikuti Imbauan
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat juga meminta masyarakat mematuhi arahan pemerintah daerah selama penanganan karhutla.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan kabut asap, terutama ketika kualitas udara belum membaik.
“Bagi masyarakat harus mendengarkan apa arahan dari wali kota. Jadi kalau kata Wali Kota jangan keluar rumah dulu, ada edaran, misalkan sekolah boleh dari jarak jauh, ya kita lakukan saja begitu,” kata Jumhur saat mengunjungi warga terdampak karhutla di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin.
Ia mengingatkan masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah ketika kondisi udara masih dipenuhi asap.
“Daripada nanti terkena masalah, penyakit bertambah, ada infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), sesak napas, kita yang rugi,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan mencatat hingga Jumat (21/8), karhutla telah berdampak terhadap 87 kabupaten/kota di Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dari wilayah terdampak tersebut, sekitar tiga juta warga di 37 kabupaten/kota dilaporkan terpapar kabut asap akibat karhutla.
Paparan asap dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru-paru.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!