Bukan sekadar Kain Hiasan, Wastra Ecoprint Flora Benuanta, Rekam Jejak Keanekaragaman Hayati Kalimantan, Sebuah Keindahan Tanpa Duplikat
📅 Selasa, 25 Agu 2026, 22:59 WIB | Oleh: OpikDia mengungkapkan kebanyakan karya ecoprint dihasilkannya disukai pangsa pasar luar negeri. Hal itu terlihat saat Chelsea bersama Pemerintah Provinsi Kaltara mengikuti China Expo di (Caexpo) di Kota Nanning, Tiongkok tahun 2024, hasil karya ecoprint hasil karyanya banyak diminati pengunjung acara tersebut.
Kemampuan sebagai perajin Ecoprint ini, Chelsea tidak dimanfaatkan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Dia juga membagi ilmu dengan masyarakat, agar ilmunya dapat berguna dan menghasilkan.
Saat ini, Chelsea untuk ecoprint mempekerjakan tiga orang tetangganya dan seorang dari kalangan disabilitas.
Selain itu, memberikan pelatihan kepada mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan mereka dari kalangan disabilitas. Kegiatan pelatihan dilakukan Chelsea, agar para mahasiswa dan masyarakat dapat memanfaatkan keanekaragaman tumbuhan yang ada di sekitarnya untuk seni ecoprint.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keberhasilan Chelsea dalam mengembangkan produknya tidak lepas dari campur tangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara yang memberikan pembinaan dan manajemen.
Serta dibantu memasarkan produk dengan mengikuti kegiatan Karya Kreatif Benuanta (KKB) yang sudah mengikuti dari tahun pertama sampai ketiga ini. “Kalau belum ada KKB ada perbedaanya, sekarang lebih terkenal, dan dukungan bikin semakin semangat,” kata Chelsea sambil tersenyum lebar.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalimantan Utara, Rahmawati Zainal yang juga anggota Komisi VII DPR RI mengatakan bahwa bicara soal wastra Kaltara, sebetulnya bicara tentang kekayaan yang selama ini kurang terekspos.Padahal potensinya luar biasa, Kaltara punya keragaman etnis yang sangat kaya.
“Selain itu, wastra Kaltara juga mulai naik panggung nasional. Tahun 2025 lalu, Tarakan bahkan menjadi salah satu pendukung Parade Wastra Nusantara di tingkat nasional,” kata Rahmawati.
Ini menunjukkan bahwa perlahan wastra kita mulai dilirik, meskipun jujur dia katakan, Kaltara masih tertinggal dari sisi branding dan skala usaha dibanding provinsi lain di Kalimantan.
“Kebetulan ini juga sangat relevan dengan tugas saya sekarang di Komisi VII yang mitra kerjanya mencakup Kementerian Pariwisata, Kementerian Perindustrian, Kementerian UMKM, dan Kementerian Ekonomi Kreatif,” kata Rahmawati.
Menurutnya perkembangannya positif dan mulai bergerak, tapi masih dalam tahap rintisan. Semangat perajin sudah ada, potensi budaya sudah ada, tinggal bagaimana pemerintah pusat, daerah, dan lembaga terkait hadir memberi dukungan yang konsisten.
"Saya selalu sampaikan ke teman-teman perajin, ada beberapa hal yang perlu jadi prioritas yakni standarisasi kualitas. Mulai dari bahan baku, teknik pewarnaan, kerapian jahitan, sampai kemasan,” kata Rahmawati.
Dia mengatakan produk yang bagus secara motif tapi lemah di finishing akan sulit bersaing, apalagi kalau target pasarnya sudah nasional atau ekspor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!