Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat
📅 Senin, 24 Agu 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Kemakmuran bukan sesuatu yang dapat bertahan secara otomatis, melainkan harus ditopang oleh fondasi kebijakan sosial, politik, dan ekonomi yang transparan dan inklusif.
Ahli Riset dan Analis Kebijakan Senior dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta dalam keterangannya di Jakarta, pekan lalu menyatakan Indonesia mencatat kemajuan dalam Legatum Prosperity Index 2025 dengan naik 15 peringkat dalam satu dekade terakhir, dari posisi ke-79 pada 2015 menjadi ke-64 pada 2025. Namun, laporan yang sama juga menunjukkan bahwa laju peningkatan indeks kemakmuran Indonesia mulai melambat sejak 2023.
“Kemakmuran tidak hanya ditentukan oleh pendapatan atau pertumbuhan ekonomi. Kemajuan yang berkelanjutan membutuhkan institusi yang dipercaya publik, ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan aspirasi, serta pemerintahan yang transparan dan akuntabel,” kata Andree.
Kondisi itu merupakan peringatan dini yang memerlukan perhatian serius pemerintah.
Menurut dia, data Legatum Prosperity Index 2025, peningkatan kemakmuran Indonesia selama satu dekade terakhir ditopang oleh membaiknya standar hidup masyarakat.
Hal itu tecermin dari meningkatnya Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita dari 3.390 dollar Amerika Serikat (AS) menjadi 5.120 dollar AS, menurunnya tingkat kemiskinan ekstrem hingga di bawah lima persen, serta semakin luasnya akses masyarakat terhadap air minum dan sanitasi yang layak.
Meski demikian, laporan yang sama juga menunjukkan munculnya sejumlah tantangan baru. Di bidang ekonomi, Indonesia menghadapi perlambatan kemajuan pembangunan yang terlihat dari menyusutnya porsi kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, di bidang tata kelola, korupsi masih menjadi salah satu kelemahan yang belum menunjukkan perbaikan berarti.
“Pendakian menuju tingkat kemakmuran berikutnya akan sangat sulit dicapai jika kebijakan ke depan mengabaikan pentingnya transparansi, ruang partisipasi masyarakat, dan kepastian hukum yang kuat,” katanya.
Kebebasan Berpendapat
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh menurunnya sejumlah indikator kebebasan sipil. Dalam satu dekade terakhir, peringkat Indonesia pada pilar Freedom of Dissent (Kebebasan Berpendapat) turun 12 posisi menjadi peringkat ke-86.
Laporan tersebut juga menyoroti berbagai perdebatan mengenai ruang kebebasan sipil, transparansi proses legislasi, serta meningkatnya peran militer dalam sejumlah urusan sipil.
“Ketika aspek-aspek tersebut melemah, kemampuan suatu negara untuk terus meningkatkan kemakmuran juga akan ikut terhambat,” kata Andree.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang menjadi salah satu kekuatan utama. Legatum Prosperity Index menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia untuk pilar Integrity of Communities (Kekuatan Komunitas), yang mencerminkan tingginya solidaritas sosial, optimisme masyarakat, serta kesediaan warga untuk saling membantu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!