Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pendaki Tektok Ditemukan Tewas di Area Puncak Gunung Sumbing

📅 Selasa, 25 Agu 2026, 15:56 WIB | Oleh:
Pendaki Tektok Ditemukan Tewas di Area Puncak Gunung Sumbing Doc: Basarnas
Ket. Proses evakuasi korban jatuh ke jurang.

SOLO -- Duka mendalam menyelimuti keluarga Mas Dude Kurniawan (17), pendaki yang ditemukan meninggal dunia di Gunung Sumbing. Sang ayah, Sri Widodo, mengungkapkan putranya sebenarnya tidak mendapatkan restu dari sang ibu, Retno Lestari, saat berangkat mendaki.

Sri Widodo bercerita Dude sempat berpamitan kepada orang tuanya akan berangkat ke Sumbing pada Jumat (21/8/2026). Namun, sang ibu merasa keberatan karena di lingkungan tempat tinggal mereka, Desa Bayan, sedang banyak kegiatan menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus dan acara merti dusun.

"Sempat izin, tapi ya ibunya keberatan. Karena ya di rumah kegiatannya banyak, kan 17-an, merti dusun dulu, kegiatan banyak. Tapi sudah terlanjur nekat ini," ujar Sri Widodo saat ditemui  di rumah duka, Gawanan, Colomadu, Minggu (23/8).

Menurut Sri, putranya memang dikenal memiliki kepribadian yang pendiam dan terkadang sulit makan hingga badannya terlihat kurus. Meski pendiam, Dude dikenal sangat nekat jika sudah memiliki keinginan.

"Mas Dude itu ya pendiam. Tapi kurang, makannya sulit jadi kurus, nekat," ucapnya.

Ia mengatakan, putra bungsu dari tiga bersaudara itu memang sudah sering naik gunung. Namun, biasanya hanya di dekat dari rumah.

"Iya, tapi cuma dekat, Karanganyar itu, Mongkrang itu, Mbak. Bergaul (di desa) ya agak kurang," bebernya.

Sri mengenal kedua teman anaknya yang berangkat ke Sumbing. Ketiga remaja itu disebut berteman sejak SMP dan berlanjut hingga ke SMK Adi Soemarmo.

"Temannya tertentu cuma dua itu, teman dari kecil, SMP lanjut ke STM," lanjutnya.

Dia mengaku mulai khawatir saat Dude tidak bisa dihubungi pada Sabtu (22/8) sore. Sri mengatakan, kontak terakhir terjadi sekitar pukul 18.00 WIB, namun pesan WhatsApp yang dikirimkan sudah tidak aktif.

"Kemarin hari Jumat jam 6 sore itu di-WA sudah nggak aktif itu, Mbak. Jam 18.15 tanya WA temannya, katanya belum turun. Terus Omnya lapor ke Basarnas," kata Sri.

Mendapat kabar tersebut, malam itu juga Sri langsung meluncur ke lokasi pendakian. Namun, karena kondisi cuaca dan waktu yang sudah malam, proses pencarian baru bisa dimaksimalkan pada Sabtu (23/8) pagi.

"Saya langsung meluncur ke sana. Karena kondisi cuaca malam tidak bisa dievakuasi, belum pencariannya distop, Mbak. Baru jam 5 pagi tadi mungkin bisa," terangnya.

Sri Widodo yang menunggu di basecamp harus menerima kenyataan pahit saat sang anak dinyatakan meninggal dunia. Meski sangat terpukul dan kaget, ia mengaku sedikit lega karena jenazah putranya bisa ditemukan dengan cepat oleh tim SAR.

"Ya kaget, tapi ya kalau dinalar kalau jatuh di gunung saja ya alhamdulillah ya cepat diketemukan itu lho," ungkapnya dengan tegar.

Peristiwa di Gunung Sumbing

Seorang remaja Dude Kurniawan Pasha (17) ditemukan tewas di area puncak Sejati di Gunung Sumbing Temanggung. Pendaki itu sempat dilaporkan hilang usai berpisah dari temannya saat turun gunung.

Disebutkan korban mendaki Gunung Sumbing bersama dua orang temannya Rangga Dwi Arianto (17) dan Fatahilah (17) pada Jumat, 21 Agustus 2026 malam. Ketiganya mendaki Gunung Sumbing via Basecamp Banaran pada pukul 21.30 WIB.

"Pada pukul 23.30 WIB, rombongan mulai pendakian (tektok) berangkat dari Basecamp naik ojek dengan kondisi fisik sehat. Rombongan melakukan pendakian (tektok) Gunung Sumbing via Banaran menuju puncak Sejati," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung, Totok Nursetyanto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/8).

"(Informasinya) Setelah sampai puncak, kedua pendaki tersebut turun pada pukul 13.00 WIB (Sabtu) dengan menggunakan jalur yang berbeda. Korban mencari jalur sendiri melalui tebing di bawah puncak sejati (sisi utara). (Diduga) Pada saat itu korban terpisah dengan temannya Fatahilah," ujarnya.

Korban pun dilaporkan mulai hilang kontak pada Sabtu (23/8). Basarnas yang menerima laporan kemudian melakukan pencarian.

"Saat terpisah, korban mengenakan pakaian serba hitam, topi warna hitam dengan sedikit coretan putih dan membawa logistik berupa dua roti. Teman korban melaporkan ke Basecamp Banaran dan langsung dilakukan pencarian malam hari. Pada, Minggu (23/8) pukul 07.00 BPBD Temanggung mendapat informasi penemuan korban yang berada di area puncak sejati dalam keadaan MD," jelasnya.

Sempat Tak Direstui Ibu


Isak tangis pun menyambut jenazah korban saat tiba di rumah duka. Ibunda Dude, Retno Lestari, ayahnya Sri Widodo, dan kedua kakaknya tak kuasa menahan haru.

Tampak sang ayah menahan tangis saat menyalami para pelayan yang takziah di rumah duka. Sang ibu pun tampak didampingi dua wanita yang berupaya menghibur.

20260825155436_1b-sumbing.jpg

Sri Widodo, ayah Mas Dude Kurniawan


Sri Widodo mengenang anak bungsunya itu sempat tak diberi izin untuk pergi mendaki. Namun, pelajar SMK Adisoemarmo itu tetap nekat.

"Sempat izin, tapi ya ibunya keberatan. Karena ya di rumah kegiatannya banyak, kan 17-an, merti dusun dulu, kegiatan banyak. Tapi sudah terlanjur nekat ini," ujar Sri Widodo saat ditemui di rumah duka, Gawanan, Colomadu, Minggu (23/8).

Sri menyebut anaknya itu berteman dekat dengan dua remaja yang juga pergi mendaki. Ketiganya disebut berteman sejak SMP.

"Temannya tertentu cuma dua itu, teman dari kecil, SMP lanjut ke STM," ujarnya.

Sri mengaku mulai waswas saat mengetahui putranya itu hilang kontak pada Sabtu (23/8) sore. Kala itu, ponsel anaknya sudah tidak aktif.

"Kemarin hari Sabtu jam 6 sore itu di-WA sudah nggak aktif itu, Mbak. Jam 18.15 tanya WA temannya, katanya belum turun. Terus Omnya lapor ke Basarnas," kata Sri.

Mendapat kabar tersebut, malam itu juga Sri langsung meluncur ke lokasi pendakian. Namun, karena kondisi cuaca dan waktu yang sudah malam, proses pencarian baru bisa dimaksimalkan pada Minggu pagi pukul 05.00 WIB.

Bak mendapat petir di siang bolong, kabar duka itu diterima Sri yang menunggu di basecamp. Meski begitu, dia bersyukur jenazah anaknya cepat ditemukan.

"Ya kaget, tapi ya kalau dinalar kalau jatuh di gunung saja ya alhamdulillah ya cepat diketemukan itu lho," tutupnya dengan tegar.


Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Olahraga
Alcaraz Berpeluang Jumpa Va...

Kabut Asap Karhutla Masih Selimuti Palangka Raya

57 menit yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Kabut Asap Karhutla Masih S...
Advertisement
Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

11 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.