Sampah, Teknologi Pemusnah dan Tersingkirnya Pemulung
📅 Jumat, 14 Agu 2026, 11:25 WIB | Oleh: Tim PenulisPengelolaan sampah harus melibatkan multipihak didukung multi-teknologi ramah lingkungan. Agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari. Di sini dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) berintegritas, profesional dan berpengalaman.
Reduksi sampah dan pembatasan pembuangan sampah ke TPST/TPA menimbulkan pro-kontra. Yang gelisah para pekerja sektor persampahan, yakni pemulung, pelapak dan pekerjanya. Mereka mulai mengeluh karena hasil pungutan turun, berarti income-nya turun.
Beberapa pemulung Bantargebang yang ditemui di gubuknya pada 5, 6, 12 Agustus 2026 mengatakan, dulu ketika sampah banyak pendapatannya bisa Rp100.000 - Rp150.000 per hari. Sekarang hanya Rp50.000 - Rp70.000 per hari. Bahkan, tempat mengais sampah pun tidak leluasa seperti dulu. Dampaknya mulai dirasakan pemulung.
Uang Rp50.000 - Rp70.000 bisakah untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari? Apalagi memiliki istrik, tiga atau empat anak? Bisakah makan tiga kali sehari dengan menu sesuai kebutuhan tubuh? Situasi perekonomian sekarang harga-harga kebutuhan pokok terus meroket akibat kenaikan BBM, listrik, dan lainnya. Income itu relatif kecil. Implikasinya beban hidup makin berat. Untuk menutup biaya hidup harus hutang penuh rente.
Sebaiknya Anda baca juga:
Urusan sampah bagi orang-orang kecil, seperti pemulung dan pemilah sampah di hilir adalah masalah perut dan kelangsungan hidup keluarganya. Resiliensi pemulung ke depan menghadapi tantangan sangat berat.
Pemulung dan pemilah sampah di sekitar TPST/TPA itu tergolong kelas marjinal, rentan dan mudah tersingkir. Mereka pula sebagai kelompok yang tidak berkecukupan pangan (insecurity-food groups). Dalam konteks kebijakan, termasuk kelompok yang kurang beruntung, suaranya tak terdengar, karena direduksi dan dimasukan dalam kotak.
Kemiskinan pemulung bagian dari panorama gunung-gunung sampah daninfastruktur jalan, kantor yang megah, plant pengolahan sampah, gudang dan workshop TPST/TPA. Kemajuan yang dicapai itu tak sebanding dengan solusi penanganan sampah. Justru sebaliknya ada kantong-kantong kemiskinan, pencemaran lingkungan dan ancaman kesehatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada pejabat di lingkup Dinas Lingkungan Hidup sukses besar dengan proyek-proyeknya di TPST/TPA. Yang sukses, jabatan dan kekayaannya meningkat. Sedang yang runtuh akibat terjaring korupsi proyek sampah, atau akibat terjadi tragedi gunung sampah longsor membunuh manusia. Pejabat ini nasibnya sial, ia terjerat sanksi hukum dan pidana penjara.
Sektor informal pekerja persampahan tampaknya akan terancam dengan masuknya ratusan investor dalam luar negeri dengan modal sangat besar, teknologi canggih, networking besar dan didukung penuh oleh pemerintah dan PT Danantara. Mereka sedang menggarap proyek waste to energy (WtE). Kapasitas WtE sekitar 1.000-2.000 ton/hari. Puluhan kabupaten/kota skema proyek strategis nasional. Apakah proyek WtE jadi solusi dan harapan terbesar pemerintah pusat dan kabupaten/kota? Proyek WtE dengan membakar sampah secara massif, perlahan atau cepat akan menyingkirkan pemulung.
Pemerintah harus melindungi pemulung. Pemerintah selayaknya membuka keran menyediakan pekerjaan lebih layak dan aman. Mereka bisa ditarik ke tempat-tempat pengelolaan sampah, seperti TPS3R, TPST level kawasan, dan seterusnya. Bisa juga peluang pada pekerjaan baru berkaitan dengan skill dan kemampuannya.
Sampah menentukan akhir perjalanan manusia, sukses atau tidak. Ada yang hidup sukses bernafkah dari sampah. Bisa jadi bos pengengepul sampah. Pemilik usaha pencacahan plastik. Ada yang sangat sukses memiliki beberapa pabrik proses biji plastik/pallet, tanah hektaran, rumah permanen tingkat, mobil Pajero, beberapa truk dan pickup dan harta benda lain. Rumah dan pabriknya dipasang CCTV. Dapat “surga” dari sampah!
Ada yang jadi bos pengepul sampah, sudah beberapa tahun, sayangnya beberapa bulan lalu terus merugi, modalnya ludes dan bangkrut akibat harga sampah pungutan turun terus. Lalu, memutuskan pulang kampung di Indramayu untuk bertani dan beternak kambing dan sapi. Katanya, sapinya sudah beranak. Sekarang ia lebih tenang dengan usahanya yang baru.
Ada pemulung yang hidupnya miskin dan semakin miskin. Hidupnya di gubuk kumuh bacin. Selama belasan tahun tidak bisa membeli tanah, miskipun hanya 50 m2. Apalagi mendirikan rumah permanen sangat sulit. Ada yang bilang karena tak bisa mengelola penghasilan. Ada yang bilang mungkin tulangnya jadi orang melarat. Ini semacam “takdir” atau seleksi alam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!