Sampah, Teknologi Pemusnah dan Tersingkirnya Pemulung
📅 Jumat, 14 Agu 2026, 11:25 WIB | Oleh: Tim PenulisOleh Bagong Suyoto
Aktivis Lingkungan Hidup dan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas)
Wujudnya sampah. Kasat mata, tumpukannya amburadul terlihat jelas. Ketika jadi gunung-gunung sampah menjadi sangat jelas. Manusia berhubungan erat dengan sampah. Aktivitas manusia menyisakan sampah menjijikan. Selama ada manusia pasti ada sampah. Bahkan bayi yang baru lahir menghasilkan sampah. Sesuatu yang vital bagi kehidupan.
Definisi sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Bisa juga, sampah adalah barang buangan tak berguna.
Apakah sampah itu benda mati atau hidup? Jelas, sampah adalah barang mati. Kenapa sampah menimbulkan permasalahan dan kebingungan manusia? Jika tidak diurus dengan benar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, sampah organik segera membusuk dibantu mikroorganisme, seperti bakteri dan jamur. Jika tak cepat diolah menimbulkan lindi, bau busuk, menyengat dan muncul belatung dan lalat. Sedang sampah yang mati, seperti plastik bertahan ratusan tahun. Lalu ada gerakan kurangi plastik sekali pakai. Juga, kertas, beling, logam dan lainnya.
Sampah Menakutkan
Sampah merupakan material buangan, barang mati ketika timbulannya mencapai ribuan ton, 9.000 - 10.000 ton per hari membuat manusia pusing. Itu produksi 11 juta penduduk Jakarta, setara dengan produksi sampah penduduk Singapura.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tiap hari harus dibuang atau dipindahkan jauh-jauh dari rumah. Muncul istilah Nimby, Not in My Back Yard (bukan di halaman belakang saya). Intinya, harus memindahkan masalah. Manusia mulai takut dengan sampah! Apalagi timbulannya ribuan, puluhan ribu ton per hari. Sampah sudah jadi ancaman serius.
Pertambahan sampah suatu wilayah/kota disebabkan jumlah populasi bertambah, gaya hidup, konsumsi berlebihan, dan lainnya. Manusia memang suka “menyampah”, itu berkaitan dengan perilaku. Sebaliknya bersikap masa bodoh. Katanya, sudah membayar retribusi tiap bulan. Sampah itu urusan pemerintah.
Akibat jijik dan takut lalu ribuan sampah itu dibuang jauh ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Lahannya di wilayah tetangga. Sementara TPA dikelola open dumping, dalam perjalanan waktu menimbulkan permasalahan kompleks, rumit dan menakutkan.
Metode kuno itu, implikasinya menjadi gunung-gunung sampah menjulang ke langit. Lalu, diguyur hujan lebat, longsor merenggut nyawa dan korban harta benda. Pun, saat kemarau terjadi kebakaran massif mengancam kesehatan warga, seperti inspeksi saluran pernapasan atas (ISPA), konjungtivitis, dan lainnya.
Puluhan penyakit bersarang di TPA open dumping. Kasus ini terjadi di TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu Kota Bekasi, TPA Burangkeng, dan lainnya. Perlu dicek data pasien Puskemas terdekat.
Mereka terpapar gas-gas sampah, seperti gas metana (CH4), CO2 menyebabkan sakit bengek. Logis TPST Bantargebang dijuluki juara dunia gas metana. Dampak merusaknya 28 kali lipat CO2, mempercepat perubahan iklim dan pemanasan global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!