Ekonomi Dinilai Sulit Tumbuh di Atas 5 Persen
📅 Rabu, 05 Agu 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiTidak Merata
Di sisi lain, Aloysius menilai distribusi hasil pertumbuhan ekonomi masih belum merata. Ia mengutip data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menunjukkan simpanan di atas 5 miliar rupiah tumbuh 15,44 persen, sedangkan simpanan dengan saldo di bawah 5 juta rupiah hanya meningkat 7,36 persen.
Sementara itu, laporan Bank Mandiri mencatat pertumbuhan belanja masyarakat pada awal Q3-2026 melambat menjadi 5,8 persen secara tahunan dari 6,1 persen pada Q2-20206, dengan Mandiri Saving Index terkontraksi 5,7 persen secara tahunan menjadi 84,8.
“Sebaliknya, indeks pinjaman yang mencakup pinjaman online, kartu kredit, dan paylater justru tumbuh 24,6 persen secara tahunan. Kondisi ini mengindikasikan masyarakat semakin bergantung pada pembiayaan konsumtif, sementara produktivitas sektor riil belum kunjung membaik,” kata Aloysius.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara optimisme pemerintah dan sinyal yang ditunjukkan pelaku usaha serta perilaku konsumsi masyarakat.
Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Maniletmemproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 berada di kisaran 4,8 hingga 4,9 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pelambatan itu terutama dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi rumah tangga setelah momentum Ramadan, Idulfitri, dan libur panjang yang pada triwulan sebelumnya yang mendorong belanja masyarakat.
“Di saat yang sama, pelemahan nilai tukar rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi sehingga menekan biaya produksi dan daya beli. Kondisi tersebut diperburuk oleh kenaikan harga energi global dan perlambatan perdagangan dunia yang membatasi kontribusi ekspor,” kata Yusuf Rendi.
Selain itu, aktivitas manufaktur juga belum kuat yang tecermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang sempat berada pada zona kontraksi selama sebagian besar Q2-2026, meskipun mulai menunjukkan perbaikan pada Juli.
“Belanja pemerintah dan investasi masih menjadi penopang pertumbuhan, tetapi belum cukup kuat untuk mengimbangi pelemahan konsumsi dan sektor eksternal,” katanya.
Dengan proyeksi tersebut, maka target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,6 hingga 6 persen sepanjang 2026 menjadi semakin berat dan kurang realistis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!