Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekonomi Dinilai Sulit Tumbuh di Atas 5 Persen

2 Rabu, 05 Agu 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ekonomi Dinilai Sulit Tumbuh di Atas 5 Persen Ekonomi Dinilai Sulit Tumbuh di Atas 5 Persen Doc: antara
Ket. Proyeksi Kinerja Q2-2026 - Purchasing Managers’ Index (PMI) Sempat di Zona Kontraksi

» Ada ketidaksesuaian antara optimisme pemerintah dan sinyal yang ditunjukkan pelaku usaha serta perilaku konsumsi masyarakat.

JAKARTA - Para ekonom menilai Pemerintah harus realistis menerima pertumbuhan ekonomi pada triwulan II (Q2) 2026 yang diperkirakan sulit tumbuh di atas 5 persen atau di bawah ekspektasi. Sulitnya mencapai seperti yang diharapkan karena dipengaruhi inflasi dari harga energi dan pelemahan kurs rupiah yang menyebabkan inflasi impor (imported inflation), sehingga biaya produksi meningkat. 

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Q2- 2026 tumbuh sebesar 4,80 persen (year on year/yoy), dengan kisaran 4,78-4,82 persen.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 5,00 persen (yoy), dengan rentang kisaran 4,95-5,05 persen.

“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Q2-2026 akan berada di bawah 5 persen,” kata Teuku dalam publikasi LPEM FEB UI di Jakarta, Selasa (4/8).

Riefky memaparkan, salah satu faktornya yakni adanya high base effect yang tinggi karena perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,12 persen (yoy) pada Q2-2025.

Selain itu, tidak terdapat dorongan musiman yang signifikan pada Q2- 2026 karena Ramadhan dan Idulfitri berlangsung pada Q1-2026.

Faktor lainnya adalah tingginya harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah memicu inflasi impor, sehingga meningkatkan biaya produksi. Hal itu ditambah dengan keputusan Pemerintah menaikkan harga Pertamax juga ikut menggerus daya beli masyarakat melalui kenaikan harga barang dan biaya transportasi.

Di kesempatan lain, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Q2- 2026 sulit diperkirakan lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pemerintah jelasnya perlu menerima kemungkinan bahwa laju pertumbuhan ekonomi masih berada di bawah 5 persen. Jika dibandingkan proyeksi pemerintah yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berada di kisaran 5,4 persen, sedangkan proyeksi LPEM UI di bawah 5 persen, maka proyeksi LPEM UI dinilai lebih realistis.

Perbedaan keduanya, kata Aloysius terletak pada faktor yang digunakan, di mana pemerintah lebih menitikberatkan tekanan eksternal, sementara LPEM juga memperhitungkan tidak adanya dorongan musiman seperti Ramadan dan Idulfitri pada Q2-2026.

Menurut Aloysius, apabila pertumbuhan ekonomi benar-benar melambat, perhatian tidak boleh hanya tertuju pada besaran angka pertumbuhan, tetapi juga pada kemampuan ekonomi menciptakan lapangan kerja dan pemerataan manfaat pertumbuhan.

Ia pun menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen atau turun dari 4,76 persen setahun sebelumnya. Namun, sekitar 67 persen dari total 7,24 juta pengangguran nasional masih berasal dari Generasi Z berusia 15–29 tahun.

Aloysius juga menilai kondisi dunia usaha domestik masih menghadapi tantangan serius. Hal itu terlihat dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk di sektor pertambangan dan manufaktur. Di Jawa Barat, sebanyak 6.727 pekerja terkena PHK sepanjang semester I 2026, sementara di Jawa Tengah sebanyak 6.604 buruh kehilangan pekerjaan hingga Juli 2026. Selain itu, sebagian pekerja manufaktur dilaporkan mengalami pengurangan jam lembur, yang menunjukkan persoalan di sektor riil tidak semata-mata dipicu tekanan eksternal.

Tidak Merata

Di sisi lain, Aloysius menilai distribusi hasil pertumbuhan ekonomi masih belum merata. Ia mengutip data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menunjukkan simpanan di atas 5 miliar rupiah tumbuh 15,44 persen, sedangkan simpanan dengan saldo di bawah 5 juta rupiah hanya meningkat 7,36 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Daerah
Tim Kesehatan Puskesmas Gam...
Daerah
Waspada, Hujan Lebat Bakal ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kimi Antonelli Ukir Sejarah! Di Usia 20 Tahun Resmi Jadi Juara Dunia Formula 1 2026

Kimi Antonelli Ukir Sejarah! Di Usia 20 Tahun Resmi Jadi Juara Dunia Formula 1 2026

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.