Perampingan BUMN Diminta Fokus Produktivitas
📅 Jumat, 17 Jul 2026, 01:00 WIB | Oleh: Eko SPemerintah perlu memastikan setiap konsolidasi benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Jakarta – Program perampingan (streamlining) badan usaha milik negara (BUMN) diharapkan tidak hanya berorientasi pada efisiensi dan pengurangan jumlah perusahaan, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas, daya saing, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Dipo Satria Ramli menilai langkah Danantara sudah tepat, terutama untuk membenahi BUMN yang tidak lagi produktif atau terbebani utang berkepanjangan.
"Langkah Danantara ini saya apresiasi karena memang cukup banyak BUMN zombie, yaitu perusahaan yang sudah tidak aktif atau memiliki beban utang yang besar," ujar Dipo di Jakarta, Kamis (16/7).
Danantara saat ini menargetkan jumlah entitas BUMN menyusut dari sekitar 1.077 perusahaan menjadi sekitar 200-300 perusahaan pada 2026. Hingga Juni 2026, sebanyak 218 entitas telah dirampingkan dengan proyeksi efisiensi mencapai sekitar 50 triliun rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, Dipo mengingatkan proses merger tidak boleh berhenti pada penyatuan perusahaan secara administratif atau sekadar mempercantik laporan keuangan.
"Beberapa merger terlihat hanya fokus pada valuasi dan accounting kosmetik, sehingga angka konsolidasinya terlihat lebih tinggi," katanya.
Menurut dia, pemerintah perlu memastikan setiap konsolidasi benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dipo juga mengingatkan karakter BUMN berbeda dengan perusahaan swasta karena memiliki mandat pelayanan publik. Karena itu, restrukturisasi harus tetap menjaga fungsi sosial perusahaan negara.
"BUMN tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga memiliki objektif sosial. Misalnya PLN, tujuannya bukan hanya laba, tetapi memastikan akses listrik yang baik bagi seluruh masyarakat," ujarnya.
Ia menilai perampingan sebaiknya difokuskan pada BUMN yang tidak sehat atau tidak lagi produktif, tanpa mengurangi tingkat persaingan usaha yang masih dibutuhkan di sejumlah sektor.
Selain itu, efisiensi juga perlu diarahkan pada penyederhanaan fungsi-fungsi yang tumpang tindih, terutama di bagian administrasi dan pendukung perusahaan.
Nilai Tambah
Senada dengan itu, Ekonom UI Toto Pranoto mengingatkan keberhasilan program streamlining BUMN tidak dapat diukur hanya dari besarnya penghematan biaya atau berkurangnya jumlah perusahaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!