Kelurahan Sukamiskin di Bandung Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
📅 Rabu, 19 Agu 2026, 16:48 WIB | Oleh: Ilham SudrajatBANDUNG - Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan membangun ekosistem pengolahan dari tingkat rumah tangga hingga kelurahan.
Berbagai metode telah berjalan, mulai dari pemilahan sampah di rumah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot dan komposter, hingga pengolahan sampah nonorganik menjadi bahan bakar alternatif berupa briket.
Lurah Sukamiskin, Sofian Ismail, mengatakan pengelolaan sampah di wilayahnya dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat, RT, RW, serta berbagai unsur lembaga kemasyarakatan.
Salah satu pengolahan yang sudah berjalan adalah budidaya maggot untuk mengurai sampah organik. Saat ini, pengolahan tersebut memiliki kapasitas sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah per hari, meski ke depan ditargetkan dapat mencapai satu ton per hari.
"Maggot kapasitasnya sekitar 400 sampai 500 kilogram sehari. Targetnya satu ton, tetapi karena maggot merupakan makhluk hidup, tentu dipengaruhi suhu dan faktor lainnya," ujar Sofian kepada Humas Kota Bandung, Selasa (18/8).
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain pengolahan di tingkat kelurahan, Sukamiskin juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui program pemilahan sampah dari sumbernya.
Menurut Sofian, sekitar 500 rumah tangga telah mendapatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pemilahan sampah menjadi organik, nonorganik, dan residu. Dari jumlah tersebut, sekitar separuhnya atau kurang lebih 250 rumah tangga mulai melakukan pemilahan dan pengolahan secara mandiri.
"Jadi kita sudah melakukan sosialisasi dan edukasi untuk pemilahan sampah organik, nonorganik dan residu. Sekitar 500 rumah tangga sudah mendapatkan sosialisasi, dan sekitar 250 rumah tangga sudah mulai memilah dan mengolah," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Upaya tersebut diperkuat dengan penyediaan sarana pengolahan di setiap RW. Dari total 17 RW, masing-masing minimal memiliki dua unit tempat pengolahan berbasis komposter, sementara sejumlah RW memiliki hingga lima unit.
Sofian menyebut fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat mengolah sampah organik secara langsung tanpa harus dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS).
"Target kita 100 persen melakukan pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga sudah memilah dan mengolah sampah sendiri di rumah," ujar dia.
Selain itu, Kelurahan Sukamiskin mengembangkan pengolahan sampah lainnya melalui peyeumisasi sampah. Fasilitas tersebut saat ini didukung enam unit mesin yang digunakan untuk mengolah sampah nonorganik menjadi briket.
Prosesnya dimulai dengan memasukkan sampah nonorganik ke dalam wadah pengolahan. Sampah kemudian ditumpuk secara bertahap dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter dan diberikan bioaktivator. Proses tersebut dilakukan berulang hingga tumpukan mencapai sekitar 1,2 meter.
Setelah dikeringkan selama sedikitnya tujuh hari, sampah kemudian digiling menggunakan mesin. Terdapat tahapan penggilingan kasar, penggilingan halus, hingga pencampuran bahan perekat berupa kanji sebelum dicetak menjadi briket.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!