Menggemaskan Sekaligus Unik, Anak Bekantan Lahir dengan Wajah Biru dan Bulu Hitam Pekat.
📅 Minggu, 21 Jun 2026, 07:12 WIB | Oleh: Yebdi TrismarSekilas, anak bekantan itu tampak tak berbeda dengan primata lain yang baru lahir. Tubuh mungilnya diselimuti bulu hitam pekat, sementara wajahnya berwarna biru tua. Jauh dari sosok bekantan dewasa yang dikenal dengan bulu kuning kecokelatan dan hidung besar yang menjadi ciri khasnya.
Namun, waktu akan mengubah penampilannya. Seiring bertambah usia, bulu hitam itu perlahan berganti menjadi kuning kecokelatan, sementara hidungnya akan tumbuh memanjang hingga menyerupai bekantan dewasa.
Pemandangan langka itu baru-baru ini terlihat di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Yang membuatnya semakin istimewa, bukan hanya satu bayi bekantan yang lahir, tapi sepasang anak kembar, di Stasiun Riset Bekantan "Camp Tim Roberts" yang dikelola Dr. Amalia Rezeki, ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), bersama Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Amalia mengatakan dua ekor bayi bekantan kembar yang baru saja lahir pada pertengahan Juni 2026 ini berasal dari betina kelompok Alpha.
Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kelahiran bayi kembar pada primata merupakan fenomena yang sangat langka. Peluang terjadinya kelahiran kembar pada primata, khususnya monyet besar dari dunia lama seperti bekantan (Nasalis larvatus) di alam liar sangat kecil dibandingkan kelahiran tunggal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemunculan bayi kembar bekantan itu terlihat pertama kali saat Amel dan tim melakukan pemantau rutin di area Camp Tim Roberts.
Amel mengaku terharu menyaksikan pemandangan yang menakjubkan ketika dua ekor bayi kembar yang sedang menyusu dipelukan induknya.
"Kami sangat bersyukur dan sempat meneteskan air mata terharu karena lebih dari sepuluh tahun saya mendedikasikan diri bagi upaya pelestarian bekantan di kawasan Pulau Curiak, baru kali ini menemukan kelahiran bayi bekantan kembar," ungkap dosen Pendidikan Biologi ULM peraih Kalpataru 2022 sebagai penyelamat lingkungan ini.
Menurut dia, sepanjang pertengahan tahun ini telah lahir tiga bayi bekantan di kawasan Camp Tim Roberts yang merupakan bagian dari Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, sebuah habitat yang berada di luar kawasan konservasi.
Amel menjelaskan masa reproduksi bekantan jantan dimulai dari usia 4 hingga 5 tahun, sementara untuk betinanya pada usia 4 tahun. Bekantan lazimnya hanya melahirkan 1 ekor bayi dalam 1 musim, dengan masa kehamilan selama 5 sampai 6 bulan.
Bayi bekantan dirawat secara berkelompok dengan pola asuh, semacam baby sister oleh koloninya, terutama dilakukan oleh betina muda.
Amel mengungkapkan kelahiran bayi kembar bekantan ini menarik perhatian dunia, terutama dari kalangan akademisi yang juga peneliti serta pegiat konservasi keragaman hayati.
Primata yang termasuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional IUCN dengan status terancam punah (Endangered Species) ini, kini banyak menjadi perhatian dunia, terlebih dengan kemunculan bayi kembar bekantan.
Seperti yang disampaikan Associate Professor Charles Lee, peneliti bekantan asal Singapura, ia sempat meneteskan air mata haru saat mendengar kabar kelahiran bayi bekantan kembar tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!