Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pantai Kolbano, Pesona Pesisir dengan Hamparan Batu Warna-warni

📅 Jumat, 31 Jul 2026, 07:23 WIB | Oleh:
Pantai Kolbano, Pesona Pesisir dengan Hamparan Batu Warna-warni Doc: ANTARA/Kornelis Kaha
Ket. Sejumlah wisatawan menikmati keindahan Pantai Kolbano yang terletak di desa Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, Sabtu (24/10). Pantai Kolbano yang berjarak 136 km dari Kupang tersebut merupakan pengembangan lokasi wisata baru di daerah tersebut. A

BAGI sebagian besar orang, pantai identik dengan hamparan pasir putih atau hitam yang membentang di sepanjang garis pantai. Namun, pemandangan berbeda akan dijumpai ketika berkunjung ke Pantai Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.

Pantai yang berada di Desa Kolbano, Kecamatan Kolbano, ini justru menghadirkan hamparan batu-batu kerikil berwarna-warni sebagai lanskap utamanya. Batu-batu berukuran kecil hingga sedang memenuhi tepian pantai dan menciptakan pemandangan yang menjadi ciri khas Kolbano.

Warna batu yang beragam, mulai dari merah, kuning, hijau, putih, cokelat hingga hitam, berpadu dengan birunya laut di pesisir selatan Pulau Timor. Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan sendiri menggambarkan Kolbano sebagai pantai yang memiliki ribuan batu berwarna-warni yang menggantikan hamparan pasir.

Namun, di balik keindahan tersebut terdapat proses geologi yang panjang. Batu-batu di Pantai Kolbano bukan muncul begitu saja, melainkan merupakan bagian dari sejarah geologi Pulau Timor yang sangat kompleks.

Warisan Geologi

Keunikan Pantai Kolbano sebenarnya dapat dibaca sebagai sebuah "buku" tentang perjalanan geologi Timor. Kawasan ini merupakan bagian dari zona geologi yang terbentuk dari berbagai material batuan yang berasal dari lingkungan pengendapan berbeda dan berumur sangat tua.

Penelitian geologi menunjukkan bahwa kawasan Kolbano tersusun atas rangkaian batuan sedimen yang usianya membentang dari zaman Paleozoikum hingga Kenozoikum. Di kawasan ini antara lain ditemukan batu gamping, batuan lempung, batupasir, serta batuan silika seperti radiolarit.

Sebagian batuan tersebut terbentuk ketika wilayah Timor masih merupakan bagian dari lingkungan laut purba. Material yang mengendap di dasar laut kemudian mengalami pemadatan dan sementasi selama jutaan tahun hingga menjadi batuan sedimen.

Sejarah geologi tersebut kemudian semakin kompleks ketika lempeng Australia berinteraksi dengan sistem Busur Banda. Timor berada di zona tumbukan antara tepian benua Australia dan Busur Banda, sebuah proses tektonik yang menyebabkan lapisan-lapisan batuan terlipat, tersesar, terangkat, dan tersusun menjadi kompleks geologi seperti yang terlihat sekarang.

Dengan kata lain, batu yang sekarang diinjak wisatawan di Pantai Kolbano dapat merupakan bagian dari material geologi yang telah mengalami perjalanan sangat panjang sebelum akhirnya terkumpul di garis pantai.

Keunikan batu berwarna di Kolbano ternyata tidak hanya menarik perhatian wisatawan. Fenomena tersebut juga menjadi objek penelitian ilmiah.Pada 2024, Yanti Boimau, Angelikus Olla, Hilari F. Lipikuni, Wenti M. Maubana, dan Hery Leo Sianturi menerbitkan penelitian berjudul “Analisis Batuan Bawah Permukaan Pantai Kolbano Berdasarkan Data Geolistrik Resistivitas” dalam Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika.

Penelitian tersebut menggunakan metode geolistrik resistivitas konfigurasi Schlumberger untuk memetakan pola lapisan batuan bawah permukaan, mengidentifikasi jenis batuan berdasarkan nilai resistivitas, serta memperkirakan ketebalan lapisan batuan di kawasan Pantai Kolbano. Penelitian dilakukan melalui empat lintasan dengan panjang lintasan hingga 400 meter.

Hasil interpretasi menunjukkan adanya dua jenis batuan utama yang teridentifikasi di bawah permukaan kawasan penelitian, yakni batuan aluvium dan batu gamping. Batuan aluvium diinterpretasikan memiliki nilai resistivitas sekitar 38,5–800 Ωm, sedangkan batu gamping memiliki nilai resistivitas sekitar 801–187.433 Ωm. Ketebalan lapisan yang diinterpretasikan sebagai aluvium berada pada kisaran 5,5–73,8 meter.

Yang paling menarik, penelitian tersebut secara eksplisit membahas batu berwarna yang menjadi material pertambangan di Desa Kolbano. Berdasarkan nilai resistivitas yang diperoleh, peneliti mengklasifikasikan material batu berwarna tersebut sebagai batuan aluvium.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ribuan Penebang Tebu Sambut Mentan Amran, Diajak Dukung Swasembada Gula Nasional.
    Preview komentar:
    swasambada gula juga tidak kalah pentingnya dari swasembada ...
  • Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional
    Preview komentar:
    Sebagai praktisi yang sering berinteraksi dengan sektor distribusi ...
  • Industri Halal Dinilai Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.
    Preview komentar:
    Membaca ulasan komprehensif ini memberikan perspektif baru yang ...
"Famtrip Marine Maratua 2026" Promosikan Keindahan Bawah Laut Maratua pada Turis Selam Malaysia dan Singapura

"Famtrip Marine Maratua 2026" Promosikan Keindahan Bawah Laut Maratua pada Turis Selam Malaysia dan Singapura

26 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.