Ceuta, Wilayah Kantong Spanyol yang Jadi Tujuan Imigran dan Menjadi Titik Konflik dengan Maroko
📅 Sabtu, 01 Agu 2026, 10:49 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: AP
MADRID — Ribuan migran membanjiri wilayah kantong Spanyol, Ceuta, di Afrika Utara yang berbatasan dengan Maroko. Sedikitnya 57 orang tewas dalam upaya tersebut. Spanyol berencana mengerahkan militernya untuk memulihkan perbatasan.
Video dan gambar dari perbatasan menunjukkan kerumunan orang, sebagian besar warga Maroko, berjalan di sekitar pemecah gelombang di pantai perkotaan dekat pos pemeriksaan perbatasan dengan Maroko menuju jalan-jalan lokal. Mayoritas yang tampak adalah pria muda, meskipun ada juga keluarga dengan wanita dan anak-anak.
Eskalasi di perbatasan terjadi setelah lonjakan imigran yang mencoba mencapai eksklave kecil itu, terutama dengan berenang sehari sebelumnya. Belum jelas apa yang mendorong begitu banyak orang menyeberang ke Ceuta.
Pemerintah Spanyol mengatakan akan mengirim Angkatan Bersenjata untuk membantu Garda Sipil di Ceuta.
Berikut hal-hal yang perlu diketahui tenang Ceuta, dikutip dari Associated Press:
Sebaiknya Anda baca juga:
1. Sebuah kota otonom Spanyol di benua Afrika
Ceuta dan wilayah Spanyol yang lebih besar, Melilla, yang terletak sekitar 400 kilometer (250 mil) di sebelah timur, berada di pantai utara Laut Mediterania di ujung Afrika. Kedua kota otonom ini termasuk dalam wilayah Spanyol dan berbagi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika.
Ceuta, yang berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak tahun 1580, adalah rumah bagi populasi campuran yang terdiri dari umat Kristen dan Muslim, serta penduduk dan pekerja harian Spanyol dan Maroko yang hidup relatif harmonis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Maroko secara resmi tidak mengakui Ceuta dan Melilla sebagai wilayah Spanyol, dan sering menyebutnya sebagai wilayah pendudukan.
2. Titik konflik migrasi dan diplomatik antara Spanyol dan Maroko
Kota berpenduduk 85.000 jiwa ini telah menjadi titik rawan dalam krisis diplomatik besar dalam beberapa waktu terakhir antara Madrid dan Rabat.
Pada Mei 2021, pemerintah Maroko mencabut kontrol perbatasan dan membiarkan sekitar 8.000 orang dari Maroko dan negara-negara sub-Sahara membanjiri Ceuta hanya dalam dua hari.
Langkah tersebut secara luas ditafsirkan sebagai pembalasan dari Maroko atas keputusan Spanyol untuk mengizinkan seorang pemimpin pro-kemerdekaan dari wilayah Sahara Barat yang disengketakan untuk menerima perawatan medis di sebuah rumah sakit Spanyol.
Ketegangan mereda dan perbatasan dipulihkan setelah perdana menteri Spanyol mengubah pendirian negaranya yang telah lama dipegang mengenai Sahara Barat , dan bertemu dengan Raja Maroko Mohammed VI pada tahun berikutnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!