Menggemaskan Sekaligus Unik, Anak Bekantan Lahir dengan Wajah Biru dan Bulu Hitam Pekat.
📅 Minggu, 21 Jun 2026, 07:12 WIB | Oleh: Yebdi TrismarDi sisi lain, Amel berharap kejadian langka ini dapat menjadi harapan baru bagi peningkatan populasi bekantan pada masa mendatang. Meski demikian, ia tetap menyimpan kekhawatiran terkait kecukupan nutrisi bagi bayi bekantan kembar yang lahir dari satu induk, mengingat bekantan pada umumnya melahirkan satu anak.
Karena itu, Amel dan tim berupaya melakukan observasi yang lebih intensif agar setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan bayi bekantan kembar tersebut dapat terpantau dengan baik.
Ekonomi berkelanjutan
Berdasarkan data SBI, saat ini terdapat 61 individu bekantan di Pulau Curiak. Jauh meningkat dibandingkan sejak pertama kali tim SBI mengelola Pulau Curiak di tahun 2016 yang hanya terdapat 14 individu bekantan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pulau Curiak awalnya hanya seluas 2,7 hektare dikelola secara swadaya oleh SBI. Namun kini bertambah luasannya mencapai sekitar 10 hektare berkat penanaman mangrove rambai yang terus dilakukan.
Hingga kini, lebih dari 50.000 bibit pohon rambai telah ditanam, bahkan sebagian di antaranya tumbuh dan membentuk pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Curiak.
Lokasi tersebut berada tidak jauh dari Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut, kawasan konservasi habitat bekantan dengan ekosistem hutan mangrove yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.
Keberhasilan upaya konservasi bekantan di Pulau Curiak ternyata tidak hanya berkontribusi pada peningkatan populasi bekantan di luar kawasan konservasi dan mengurangi ancaman kepunahan, tetapi juga memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Setiap hari, puluhan nelayan mencari ikan dan udang yang melimpah di perairan sekitar kawasan mangrove rambai.
Ada sembilan desa di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, yang masyarakatnya kini merasakan manfaat positif dari upaya pelestarian ekosistem lahan basah di Pulau Curiak.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten Barito Kuala dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan Pulau Curiak sebagai destinasi ekowisata minat khusus, seiring tingginya minat kunjungan wisatawan ke kawasan yang menjadi bagian dari situs Meratus UNESCO Global Geopark tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, Iwan Fitriady, menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat setempat untuk bersama-sama menjaga alam dan ekosistemnya agar dapat memberikan dampak berkelanjutan terhadap peningkatan ekonomi.
Menurut dia, pengembangan sektor pariwisata, khususnya di kawasan situs Geopark Meratus, memerlukan peran penting Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam menghidupkan dan menjaga nilai-nilai lokal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!