Sektor Swasta Gandeng Pemda Terapkan 'Pertanian Hijau'
📅 Sabtu, 01 Agu 2026, 09:25 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA– Transisi ke ekonomi hijau di sektor pertanian resmi dimulai di Lampung. PT. ESGIN Global Partners, DPD HKTI Provinsi Lampung, dan Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) meneken Nota Kesepahaman untuk membangun Green Economy Ecosystem pertama di Indonesia berbasis pertanian singkong dan industri tapioka.
Penandatanganan dilakukan saat Musyawarah Daerah DPD HKTI Lampung dan Pelantikan 15 DPC HKTI Kabupaten se-Provinsi Lampung. Hadir Sekjen DPN HKTI Abdul Kadir Karding yang juga Kepala Badan Karantina Indonesia, mewakili Ketum DPN HKTI yang juga Wamentan RI Sudaryono.
Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Yayang Ruzaldy, Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners, Rahmat Mirzani Djausal, Ketua DPD HKTI Lampung sekaligus Gubernur Lampung dan Welly Soegiono, Ketua Umum PPTTI sekaligus Direktur PT. Great Giant Pineapple, diwakili Sekretaris PPTTI Bapak Haru
"Lewat kolaborasi ini, ESGIN memposisikan diri bukan hanya sebagai pengembang proyek karbon, tetapi Green Project Investor dan Green Economy Infrastructure Developer di Lampung,"ucap Yayang Ruzaldy, Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners dari Bandar Lampung, Jumat (31/7).
Investasi akan menyasar 2 pilar utama ekonomi hijau, pertama, Pertanian Rendah Karbon bersama HKTI Lampung. ESIGIN dan HKTI akan menerapkan sejumlah hal yakni Climate Smart Agriculture (CSA) untuk naikkan produktivitas & ketahanan iklim.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemudian, Biochar untuk menyehatkan tanah & serap karbon dan Alternate Wetting and Drying (AWD) di sawah untuk potong emisi metana. Tujuannya untuk naikan hasil panen petani, turunkan emisi, sekaligus buka pendapatan baru lewat Nilai Ekonomi Karbon.
Kedua, Industri Hijau bersama PPTTI.
ESIGIN dan PPTTI akan bangun methane removal project di pabrik tapioka. Limbah cair diolah jadi biogas lewat teknologi methane capture.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dampaknya ganda: kurangi emisi metana yang 28x lebih berbahaya dari CO2, dan hasilkan energi terbarukan plus Carbon Credit untuk industri.
Semua proyek akan dipantau pakai Digital MRV berbasis AI, citra satelit, IoT, drone, dashboard, dan blockchain. Tujuannya untuk data emisi transparan, akuntabel, dan diakui pasar karbon nasional dan global.
Adapun Lampung dipilih sebagai Pilot Project Green Economy Nasional karena pertama, sebagai produsen singkong terbesar RI: 7,5 juta ton/tahun. Kedua, Industri tapioka jadi tulang punggung ekonomi daerah. Ketiga, komitmen Pemprov kuat di bawah kepemimpinan Gubernur HKTI
Program ini sejalan dengan UU No.16/2016 tentang Paris Agreement dan Perpres No.110/2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon yang mendorong pembangunan rendah karbon.
Yayang Ruzaldy, Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners menegaskan, Lampung punya semua modal untuk jadi pusat Green Economy pertanian Indonesia. ESGIN siap investasi dari hulu ke hilir: mulai CSA, Biochar, sampai Methane Removal. "Dengan integrasi Digital MRV, AI, Blockchain, Green Finance dan Carbon Market, kita ciptakan model baru: petani sejahtera, industri kuat, lingkungan terjaga, dan RI makin dekat ke target Net Zero Emission,"ucapnya
"Ini bukan sekadar MoU. Ini langkah konkret menjadikan pertanian Lampung modern, rendah emisi, dan punya nilai tambah di pasar karbon,"ucap Rahmat Mirzani Djausal, Gubernur Lampung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!