Lestari Moerdijat: Butuh Komitmen Bersama Wujudkan Nilai-nilai Perjuangan RA Kartini untuk Tentukan Arah Perjalanan Bangsa
📅 Rabu, 22 Apr 2026, 18:43 WIB | Oleh: SriyonoJAKARTA – Dibutuhkan dukungan dan komitmen bersama dalam mewujudkan nilai-nilai perjuangan RA Kartini di masa kini agar menjadi bagian dan penentu arah perjalanan bangsa.
“Bagaimana nilai-nilai perjuangan RA Kartini di masa kini dapat betul-betul diwujudkan. Saya kira untuk kebebasan berpikir bagi perempuan saja, rasanya masih jauh dari kenyataan,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Hari Kartini: Antara Perayaan Simbolik dan Keberlanjutan Gagasan Emansipasi yang diselenggarakan Forum Diskusi Denpasar 12 , Rabu (22/4).
Diskusi yang dimoderatori Nur Amalia (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Periode 1993-1998 - Penyusun dan Penulis buku Trilogi Kartini), Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. (Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia /PGRI), dan Nyi Tri Yuliyanti Setyasari (Ketua Umum Badan Pusat Wanita Tamansiswa) sebagai narasumber.
Selain itu, hadir pula Retno Pinasti (Ketua Dewan Pengurus Forum Pemimpin Redaksi) sebagai penanggap.
Menurut Lestari, perlu komitmen bersama yang kuat agar mampu mewujudkan emansipasi perempuan di masa kini.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Emansipasi itu bukan semata boleh belajar, tetapi juga harus mampu mengantarkan perempuan untuk mewujudkan cita-citanya," ujar Rerie, sapaan akrab Lestari.
Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu berpendapat bahwa pekerjaan rumah untuk mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini masih sangat banyak.
Terpenting, tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, setiap momentum Hari Kartini harus menjadi pengingat bagi kita, apa saja yang sudah dilakukan untuk menghidupkan dan mewujudkan gagasan RA Kartini di masa kini. “Bagaimana kita secara bersama menemukan akar masalah yang mampu memangkas kesenjangan gender dan menentukan arah perjalanan bangsa secara bersama,” pungkas Rerie.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Periode 1993-1998 - Penyusun dan Penulis buku Trilogi Kartini, Wardiman Djojonegoro mengungkapkan bahwa peringatan Hari Kartini sejatinya sudah sejak 1915.
Ketika itu, ujar Wardiman, RA Kartini meninggal pada usia 25 tahun dan meninggalkan surat-surat yang ditulis semasa hidupnya.
Sahabat RA Kartini, Abendanon mengumpulkan surat-surat itu untuk ditulis menjadi buku guna dijual dan hasilnya untuk membangun sekolah perempuan agar mandiri.
Akhirnya, tambah dia, tiga sekolah perempuan berhasil dibangun di Semarang, Bogor, dan Yogyakarta. “Emansipasi di masa itu diperjuangkan dengan meningkatkan harkat perempuan Indonesia melalui mendirikan sekolah,” ujar Wardiman.
Sekarang, ujar Wardiman, upaya peningkatan harkat perempuan ditentukan antara lain dengan berapa banyak partisipasi perempuan di sektor ekonomi, politik, pengembangan sumber daya manusia, dan sektor di luar pendidikan.
“Saat ini, semakin kompleks faktor-faktor yang harus dipenuhi untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan,” ujar Wardiman.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (1)
23 Apr 2026, 08:43 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!