Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BRIN Dorong Kemandirian Industri Panel Surya Nasional

📅 Rabu, 05 Agu 2026, 03:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
BRIN Dorong Kemandirian Industri Panel Surya Nasional Doc: istimewa
Ket. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia perlu segera mempercepat penguasaan teknologi panel surya generasi baru agar tidak tertinggal dalam persaingan industri energi bersih global. Tanpa langkah yang lebih agresif, Indonesia dikhawatirkan hanya menjadi pasar bagi produk impor, sementara negara lain terus memimpin pengembangan teknologi manufaktur panel surya berteknologi tinggi.

Dikutip dari Antara, Peneliti Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN, Oo Abdul Rosyid, mengatakan tren industri panel surya dunia kini bergerak meninggalkan teknologi silikon konvensional menuju Silicon Heterojunction (SHJ/HJT) dan Tandem Photovoltaic (Perovskite-Silicon) yang menawarkan efisiensi jauh lebih tinggi.

"Teknologi SHJ telah menunjukkan efisiensi lebih dari 27 persen, sedangkan teknologi tandem berbasis perovskite-silikon berpotensi mencapai efisiensi lebih dari 30 persen pada skala laboratorium," kata Rosyid di Jakarta, Selasa (4/8).

Menurutnya, selain lebih efisien, kedua teknologi tersebut mampu mempertahankan kinerja pada suhu tinggi sehingga sangat cocok diterapkan di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

Rosyid menilai potensi pasar panel surya nasional sebenarnya sangat besar, mulai dari pemanfaatan PLTS atap (rooftop), pembangkit listrik tenaga surya skala utilitas, hingga PLTS terapung di danau dan waduk.

Namun, ia mengingatkan bahwa kapasitas industri dalam negeri saat ini masih didominasi pada tahap perakitan modul, sementara komponen utama seperti sel surya dan bahan bakunya masih bergantung pada impor.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan yang harus segera diatasi apabila pemerintah ingin mewujudkan target transisi energi sekaligus membangun industri hijau yang berdaya saing.

Berdasarkan hasil riset dan kolaborasi dengan Forschungszentrum Jülich (FZJ) di Jerman, BRIN melihat Indonesia memiliki peluang melakukan lompatan teknologi (leapfrog) dengan langsung mengembangkan manufaktur panel surya generasi terbaru, tanpa harus terus bergantung pada teknologi lama yang mulai ditinggalkan pasar global.

"Daripada terus mengejar teknologi yang perlahan mulai usang, Indonesia memiliki peluang untuk langsung masuk ke rantai pasok manufaktur panel surya generasi baru sehingga tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen teknologi energi bersih," ujarnya.

Insentif Investasi

Lebih lanjut, Rosyid menegaskan, pengembangan teknologi HJT dapat menjadi fondasi menuju produksi panel surya Tandem PV, yang diproyeksikan menjadi standar industri pada masa mendatang.

Karena itu, ia mendorong pemerintah tidak hanya fokus memperluas pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, tetapi juga mempercepat pembangunan industri hulu melalui insentif investasi, penguatan riset, transfer teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia agar Indonesia mampu memproduksi sel surya berteknologi tinggi secara mandiri.

Menurutnya, tanpa strategi industrialisasi yang terintegrasi, peningkatan kapasitas PLTS nasional justru berpotensi memperbesar ketergantungan terhadap produk impor sehingga manfaat ekonomi dari transisi energi tidak sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.

BRIN berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi dasar penyusunan peta jalan (roadmap) nasional sekaligus rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dan pelaku industri untuk membangun ekosistem manufaktur panel surya yang lebih kuat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pelumasan Sintetis Dorong Produktivitas dan Daya Saing Industri Plastik
    Informasi spesifik mengenai penghematan konsumsi energi hingga 10 ...
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar
Megapolitan
Cara Mengembangkan Destinas...
Nasional
Kementerian PU Tangani Ruma...
Ekonomi
Dibayangi Tekanan Ganda - 0...
Advertisement
Bye-Bye Calo! Kemen ATR/BPN Pangkas Urus Peralihan Hak Tanah Cuma 10 Hari!

Bye-Bye Calo! Kemen ATR/BPN Pangkas Urus Peralihan Hak Tanah Cuma 10 Hari!

03 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.