Rupiah Melemah akibat Perang di Timur Tengah, Berpotensi Pukul Ekonomi RI
📅 Senin, 02 Mar 2026, 16:38 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin (2/3) pagi, bergerak melemah 81 poin atau 0,48 persen menjadi Rp16.868 per dollar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.787 per dollar AS.l
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah dipicu perang di Timur Tengah yang berpotensi memukul ekonomi Indonesia lewat kejutan harga energi dan gejolak pasar keuangan global yang berpusat pada risiko gangguan pasokan.
“Ketika tensi meningkat, perhatian pasar segera mengarah ke Selat Hormuz karena arus tanker dapat melambat bahkan tertahan, sementara pelayaran dan logistik ikut terganggu,” katanya di Jakarta, Senin.
Dalam eskalasi terbaru, lanjutnya, ada indikasi pengapalan minyak dan gas alam cair di Hormuz yang banyak tertahan, perusahaan pelayaran besar menghindari Teluk Persia, dan aktivitas pelabuhan utama sempat ditangguhkan, sehingga biaya angkut dan asuransi cenderung naik dan pasokan energi menjadi efektif lebih ketat.
Pada kondisi seperti ini, kenaikan biaya asuransi dan pengalihan rute saja dinilai sudah cukup menambah dorongan inflasi energi global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, harga minyak bisa melonjak tajam. Misalnya minyak acuan sempat naik sekitar 13 persen hingga sekitar 82 dollar AS per barel meskipun saat ini berada di kisaran 76,4 dollar AS per barel, dan skenario penutupan penuh Hormuz diperkirakan bisa mendorong harga melampaui level 100 dollar AS per barel yang berimplikasi pada rata-rata harga minyak mentah Brent sepanjang tahun 2026 ini di kisaran 85 dollar AS per barel.
“Dampak ke rantai pasok global makin besar karena Hormuz adalah titik sempit yang dilalui porsi besar perdagangan minyak dan gas alam cair, sehingga guncangan kecil cepat merembet ke biaya logistik. Proyeksi tarif sewa tanker minyak yang berpotensi mendekati 300 ribu dollar AS per hari menunjukkan besarnya tekanan biaya angkut energi saat risiko Hormuz meningkat,” ungkap dia.
Melihat dari sisi pasar keuangan, perang disebut mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga dollar AS cenderung menguat dan biaya pendanaan negara berkembang berisiko naik.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kombinasi dolar yang menguat dan harga energi yang naik membuat mata uang negara pengimpor energi lebih rentan tertekan, sementara arus modal lebih selektif dan premi risiko meningkat,” ucap Josua.
Bagi Indonesia, konsekuensi paling cepat terasa adalah biaya impor bahan bakar membengkak karena negara ini merupakan pengimpor bersih minyak.
Hal ini memperburuk neraca perdagangan migas, menekan rupiah, dan pada akhirnya menambah tekanan inflasi melalui kenaikan harga energi, ongkos transportasi, serta inflasi barang impor.
Pengalaman episode eskalasi sebelumnya menunjukkan pola transmisi ini, yaitu pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil surat berharga negara tenor 10 tahun, dan pasar saham ikut terkoreksi saat sentimen global memburuk.
Tekanan eksternal ini kemudian berubah menjadi dilema kebijakan domestik. Jika harga minyak melonjak jauh di atas asumsi anggaran, ucap dia, pemerintah harus memilih antara menahan harga bahan bakar dengan konsekuensi subsidi membengkak atau menyesuaikan harga dengan konsekuensi inflasi lebih tinggi dan daya beli melemah.
Secara fiskal, sensitivitas besar karena setiap kenaikan 1 dolar AS pada harga minyak acuan anggaran dapat menambah belanja sekitar Rp10 triliun, sementara penerimaan hanya naik sekitar Rp3 triliun, sehingga defisit bersih berpotensi melebar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!