Bahrain, Mutiara Kecil di Teluk Persia
📅 Senin, 02 Mar 2026, 22:57 WIB | Oleh: Deri Henriawan“Mutiara menjadi salah satu komoditas perdagangan paling sulit sekaligus paling menguntungkan. Karena yang dicari adalah sesuatu yang sangat langka,” ujar Abbas.
Kelangkaan mutiara bisa dipahami sebab mutiara yang terbentuk alami memang lahir dari proses biologis panjang. Ketika benda asing seperti pasir atau parasit, masuk ke dalam tiram (oyster), hewan itu punya mekanisme pertahanan dengan membungkus parasit menggunakan lapisan halus berkilau yang disebut nacre.
Lapisan demi lapisan tertimbun selama bertahun-tahun hingga terbentuk bulatan yang kita kenal sekarang sebagai mutiara. Kendati demikian, dari sekitar 10.000 tiram, mungkin hanya satu yang menghasilkan mutiara berkualitas tinggi.
Kelangkaan itulah yang membuat mutiara Bahrain dihargai sangat mahal di pasaran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bertaruh Nyawa di Laut
Di balik romantisme mutiara sebagai perhiasan simbol status sosial masyarakat kelas atas, sebenarnya industri ini bertumpu pada tubuh-tubuh yang bertaruh nyawa di laut.
“Mereka menyelam puluhan kali sehari. Kadang tanpa tahu apakah tiram yang diangkat berisi mutiara atau tidak,” kata Abbas sambil menunjukkan sejumlah peralatan tradisional penyelam yang dipajang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penyelam tradisional mengikat batu pemberat di kaki agar bisa mencapai dasar laut. Mereka memasang penjepit hidung dari kayu pohon kurma agar air tak masuk. Lalu, tali yang diikat erat di pinggang menjadi penghubung dengan kapal di atas.
Para penyelam bisa menahan napas satu hingga dua menit tanpa tabung oksigen sembari mengais tiram dengan tangan kosong.
Selama berbulan-bulan di laut, makanan mereka sangat terbatas. Meski ikan segar mudah didapat, para awak kapal biasanya hanya mengandalkan nasi dan kurma.
Air minum dijatah ketat, bahkan buat membersihkan diri mereka menggunakan air laut. Akibatnya, para penyelam kerap bertubuh kurus karena beban fisik dan asupan makanan yang minim.
Kondisi hidup yang kurang higienis dan pola makan yang buruk menyebabkan banyak penyelam mengalami penyakit kulit, gangguan paru-paru, hingga infeksi. Tak sedikit pula yang akhirnya kehilangan penglihatan.
Meski demikian, Abbas mengatakan para penyelam mutiara tradisional Bahrain memang dikenal sebagai sosok yang tangguh.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!