Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bahrain, Mutiara Kecil di Teluk Persia

📅 Senin, 02 Mar 2026, 22:57 WIB | Oleh:
Bahrain, Mutiara Kecil di Teluk Persia Doc: shutterstock

FROM the depth of the sea I have risen, O Lord,
Twice times ten I went down below.
The date palm peg it held my nose,
The weights on the rope, they anchored my toes.”

Syair tersebut terpajang di dinding sebuah rumah tua di kota Muharraq, Bahrain. Deretan bait berima itu merupakan nukilan salah satu mawwal, atau syair yang dinyanyikan para penyelam mutiara (pearl diver) di tengah ayunan ombak perairan Teluk Persia.

Selain dilantunkan untuk menemani pelayaran, syair itu turut menggambarkan kerasnya kehidupan para penyelam tatkala industri mutiara masih menjadi penopang utama perekonomian Bahrain.

Kini, profesi penyelam mutiara atau dalam bahasa Arab disebut ghawwās masih bertahan. Bukan sekadar mata pencaharian tradisional, melainkan menjadi wujud warisan identitas sekaligus saksi bahwa jauh sebelum ladang minyak ditemukan, denyut ekonomi negeri Teluk itu berasal dari mutiara di laut terdalam.

Bergantung Pada Mutiara

Di salah satu rumah yang kini menjadi museum, Abbas Al-Faraj (41) berdiri di depan sebuah foto hitam putih berukuran besar yang terpacak di dinding. Gestur tangannya menunjuk potret penyelam mutiara sambil bercerita kepada para jurnalis.

“Para leluhur saya dulu menyelam tanpa tabung oksigen. Mereka hanya mengandalkan kemampuan menahan napas dan peralatan sederhana yang dibuat sendiri,” ujarnya.

Abbas merupakan seorang pemandu wisata dari Kementerian Pariwisata Bahrain yang ditugaskan menemani para jurnalis untuk mengunjungi Pearling Path, sebuah kawasan di Muharraq yang menjadi ‘museum’ bagi sejarah panjang industri mutiara Bahrain.

Di sepanjang jalur itu, rumah-rumah dibangun dari batu karang yang direkatkan tanah liat, berwarna coklat pucat menyaru dengan pasir gurun. Gang-gang sempit yang dulu dilalui para pedagang mutiara, kini ramai dengan turis yang berlalu-lalang.

Abbas memahami betul soal industri ini sebab dirinya sendiri merupakan salah satu penyelam mutiara, turun temurun dari keluarganya yang juga bagian dari generasi penyelam yang pernah menggantungkan hidup dari laut. Kisah keluarganya bukan cerita tunggal. Di masa itu, hampir seluruh negeri bergantung pada laut.

Sebelum dikenal sebagai negara penghasil minyak, Bahrain berabad-abad sebelumnya pernah menjadikan mutiara sebagai tulang punggung ekonominya.

Pada tahun 1877, mutiara menyumbang sekitar tiga perempat dari total ekspor Bahrain. Kemudian menjelang tahun 1905, Bahrain bahkan mengelola hampir setengah perdagangan mutiara di kawasan Teluk.

Letaknya yang strategis di jalur dagang antara Irak dan India menjadikannya simpul penting perdagangan global industri ini. Setiap musim panas, ribuan penyelam membuang sauh untuk berlayar mencari mutiara di perairan Teluk Persia.

Dalam industri penyelam mutiara, ada bentuk struktur sosial yang kompleks: nakhoda kapal (nakhuda), penyelam (ghawwās), penarik tali (saib), hingga pedagang (tawash).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Pramono Cabut KJP dan KJMU Siswa Bermasalah, Pelaku, Perundungan dan Tawuran

Pramono Cabut KJP dan KJMU Siswa Bermasalah, Pelaku, Perundungan dan Tawuran

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.