Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menyedihkan, Banyak Warga Indonesia Terpaksa Bekerja di Masa Pensiun karena Tekanan Finansial

📅 Selasa, 10 Feb 2026, 19:45 WIB | Oleh:
Menyedihkan, Banyak Warga Indonesia Terpaksa Bekerja di Masa Pensiun karena Tekanan Finansial Doc: Sun Life
Ket. Ilustrasi laporan survei terbaru Sun Life di Asia. Penelitian ini mengungkap realitas pahit pensiun di Indonesia, karena 71% responden bekerja saat lansia demi kebutuhan hidup.

JAKARTA - Indonesia menghadapi kesenjangan dalam hal pensiun menurut survei terbaru Sun Life di Asia. Meski banyak orang yang terus bekerja di masa pensiun karena pilihan pribadi, banyak yang harus bekerja karena tekanan kebutuhan. Temuan ini menggarisbawahi kesenjangan yang meningkat dalam hal kesiapan pensiun dan kebutuhan mendesak akan perencanaan keuangan jangka panjang.

Indonesia kini tengah menghadapi perubahan demografi, dengan sekitar 30,9 juta penduduk memasuki usia 60+ pada 2023 (11,1% dari total populasi) dan diproyeksikan meningkat ke angka 64,9 juta pada 2050 (20,5% dari populasi). (ESCAP, 2023)

Perubahan ini, dikombinasikan dengan perencanaan pensiun yang kerap ditunda serta meningkatnya ketergantungan pada AI yang digunakan secara mandiri, berpotensi memperlebar kesenjangan kesiapan pensiun.

Survei Sun Life yang berjudul “Membayangkan Kembali Pensiun: Kesenjangan Pensiun di Asia / Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” menemukan bahwa mayoritas responden (77%) memperkirakan akan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun. Bagi sebagian orang hal ini mencerminkan keinginan akan fleksibilitas dan kesejahteraan.

Responden menyebut rasa memiliki tujuan dan pemenuhan diri (48%), menjaga hubungan sosial (48%), dan stimulasi mental (36%) sebagai alasan untuk tetap bekerja. Namun bagi sebagian lainnya, hal ini mencerminkan tekanan finansial: 71% mengatakan mereka membutuhkan penghasilan tambahan untuk mendukung biaya hidup sehari-hari dan keamanan finansial jangka panjang.

“Kami melihat dua realitas yang berbeda. Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,” papar Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo melalui keterangan tertulis pada hari Selasa (10/2).

Dua realitas pensiun: pilihan bagi sebagian, kewajiban bagi yang lain

Riset Sun Life menunjukkan dua realitas pensiun yang berbeda: ‘Gold Star Planners’ yang siap secara finansial dan dapat memilih kapan serta bagaimana mereka mengurangi pekerjaan, dan ‘Stalled Starters’ yang menunda pensiun karena tidak bisa berhenti bekerja.

Bagi Gold Star Planners, melanjutkan bekerja merupakan aspirasi dan pilihan yang ditentukan oleh tujuan hidup, identitas, dan kesejahteraan (60%), berbeda dengan Stalled Starters (50%). Hampir setengah Gold Star Planners (48%) mengatakan mereka menantikan masa pensiun, yang ditopang oleh rasa aman secara finansial. Sementara itu, Stalled Starters lebih mungkin merasa tidak pasti atau pesimistis (20%).

Bagi Stalled Starters yang merencanakan pensiun lebih lambat dari perkiraan, atau sudah melakukannya, kebutuhan finansial merupakan salah satu alasan utama. Sebanyak 43% mengatakan mereka menunda pensiun untuk menutup biaya pendidikan atau kebutuhan hidup anak.

Namun, di kalangan Gold Star Planners, penundaan pensiun lebih bersifat pilihan. Sebanyak 83% menyebut menikmati aspek sosial dari pekerjaan, dan banyak yang menunjuk keinginan untuk tetap aktif secara fisik atau mental sebagai faktor pendorong (83%).

“Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman. Itulah mengapa peran institusi keuangan semakin penting: menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan, serta membantu masyarakat membangun masa depan di mana pensiun dibentuk oleh peluang, bukan tekanan,” tambah Albertus.

Generative AI menjadi sumber informasi yang digemari, membawa risiko tersendiri bagi upaya perencanaan pensiun

Seiring makin banyaknya masyarakat yang menggunakan generative AI untuk mengambil keputusan finansial, riset ini menyoroti meningkatnya risiko perencanaan pensiun secara mandiri tanpa panduan profesional yang terlatih dan terawasi. Penggunaan alat seperti ChatGPT dan Google Gemini meningkat lebih dari dua kali lipat sejak survei sebelumnya, dari 13% menjadi 30%.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.