Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pengamat Ingatkan Bahaya Normalisasi Pengibaran Bendera GAM di Ruang Publik

📅 Sabtu, 27 Des 2025, 13:25 WIB | Oleh:
Pengamat Ingatkan Bahaya Normalisasi Pengibaran Bendera GAM di Ruang Publik Doc: Akurat

JAKARTA - Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an, mengingatkan pemerintah agar bersikap sangat hati-hati terhadap munculnya praktik pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di ruang publik. Menurutnya, simbol tersebut memiliki muatan ideologis dan politis yang kuat sehingga tidak bisa dipandang sebagai ekspresi netral.

Ali menegaskan, secara historis bendera GAM melekat pada gerakan separatis bersenjata yang pernah mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, ia menilai simbol tersebut tidak bisa disamakan dengan simbol budaya atau identitas lokal semata.

“Bendera GAM bukan simbol budaya, melainkan simbol politik separatis. Kemunculannya di ruang publik tidak boleh dinormalisasi,” ujar Ali dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ia menilai, pengibaran simbol tersebut dapat menjadi indikasi masih adanya separatisme laten. Negara, kata dia, tidak boleh memberi ruang pembenaran terhadap simbol yang bertentangan dengan prinsip kedaulatan nasional.

“Jika dibiarkan, ini berpotensi memicu efek domino, eskalasi simbolik, dan membuka kembali narasi konflik lama,” katanya.

Ali juga menyoroti perubahan pola gerakan separatisme di era modern. Menurutnya, ancaman tidak lagi hadir semata dalam bentuk aksi bersenjata, melainkan melalui kombinasi aksi di lapangan dan provokasi di ruang digital.

Media sosial, lanjut Ali, kerap dimanfaatkan untuk membangun narasi emosional, memelintir persepsi publik, serta menghasut sentimen ketidakadilan. Dalam konteks ini, platform digital dapat menjadi medan baru bagi kelompok separatis.

“Hari ini, media sosial bisa menjadi medan tempur separatisme,” ujarnya.

Selain itu, Ali mengkritik keras upaya eksploitasi situasi bencana di Aceh yang disusupi provokasi. Ia menilai munculnya simbol dan narasi provokatif di tengah duka masyarakat menunjukkan adanya manipulasi emosi publik.

“Kondisi psikologis masyarakat dimanfaatkan untuk membangun rasa ketidakadilan yang terus diglorifikasi. Ini berisiko memicu konflik horizontal dan mendelegitimasi negara,” katanya.

Ali menegaskan bahwa ancaman separatis saat ini lebih banyak hadir melalui simbol dan narasi dibandingkan senjata. Namun, dampaknya tetap bisa sama berbahayanya jika tidak ditangani secara serius dan kontekstual.

“Separatisme tidak selalu bersenjata, tetapi jika dibiarkan, dampaknya bisa sama destruktif,” ujarnya.

Ia pun menekankan bahwa perdamaian Aceh merupakan hasil dari proses panjang yang penuh pengorbanan. Oleh karena itu, setiap simbol, narasi, dan tindakan yang mengarah pada kebangkitan separatisme dinilai mencederai komitmen perdamaian yang telah dibangun.

“Menjaga perdamaian Aceh berarti menutup semua ruang bagi kebangkitan simbol dan konflik masa lalu,” kata Ali.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Olahraga
Thom Haye Buka Suara! Persi...

Hitler Mussolini Terpilih sebagai Wali Kota di Peru

48 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Hitler Mussolini Terpilih s...
Advertisement
Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

10 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.