Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menteri Wihaji: Teknologi Diciptakan untuk Bantu Manusia, Bukan Kita Melayani Teknologi

📅 Jumat, 01 Agu 2025, 08:38 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Tentu dengan tujuan merumuskan secara kritis solusi berbasis bukti, guna memberikan penguatan terhadap kapasitas/kemampuan keluarga dalam memberikan perlindungan terhadap anak. Dengan 'goal' terakhir mewujudkan Generasi Emas 2045, sekaligus memperingati Hari Anak Indonesia 2025.

Dampak Penggunaan Gawai

Era digital yang berkembang pesat telah membawa tantangan baru dalam pemenuhan hak anak di Indonesia. Data terbaru Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2025) menunjukkan bahwa 92 persen anak Indonesia usia 6-17 tahun telah menjadi pengguna aktif internet, dengan rata-rata penggunaan 5-7 jam per hari.

Kondisi ini memerlukan perhatian serius mengingat penelitian terbaru dalam Journal of Child Development (2025) menemukan bahwa paparan konten negatif di internet dapat menghambat perkembangan kognitif anak hingga 25 persen.

Peringatan Hari Anak Indonesia 2025 dengan tema "Anak Terlindungi, Keluarga Kuat, Indonesia Maju" menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Beberapa penelitian terbaru dari IPB _University_ melalui Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) memberikan temuan kritis terkait perlindungan anak di era digital. 

Riset PKGA IPB (2025) berjudul "Dampak Penggunaan Gawai pada Interaksi Keluarga di Pedesaan" mengungkap bahwa 72 persen keluarga di daerah pertanian mengalami penurunan kualitas komunikasi dengan anak akibat ketergantungan pada perangkat digital, sementara hanya 28 persen yang menerapkan aturan screen time. 

Studi longitudinal ini melibatkan 1.200 keluarga di 12 kabupaten dan menemukan korelasi signifikan antara pengasuhan digital yang lemah dengan penurunan prestasi akademik anak.

Di sisi lain, riset Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB (2025) berjudul "Model Ketahanan Digital Keluarga Perkotaan" mengidentifikasi tiga pilar utama ketahanan keluarga di era digital: (1) literasi digital orang tua, (2) pola asuh adaptif, dan (3) dukungan komunitas. 

Analisis terhadap 500 keluarga di Jabodetabek

menunjukkan bahwa keluarga dengan skor ketahanan digital tinggi cenderung memiliki anak dengan:

? Kemampuan regulasi diri 2,3 kali lebih baik

? Risiko kecanduan gawai 60 persen lebih rendah

? Keterampilan sosial 1,8 kali lebih unggul

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
  • Fenomena Langit Agustus 2026: Gerhana Matahari Total, Hujan Meteor, Blood Moon hingga 6 Planet Sejajar
    Preview komentar:
    Membaca rangkuman fenomena langit Agustus 2026 di artikel ...
Advertisement
gaia musik festival
Megapolitan
Pemkab Karawang Siapkan PSE...

KKP Antarkan Lele Marinasi Asal Bandung Tembus Pasar Taiwan

27 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Ekonomi
KKP Antarkan Lele Marinasi ...
Jorge Messi Meninggal di Usia 68 Tahun , Sosok Penting di Balik Kesuksesan Lionel

Jorge Messi Meninggal di Usia 68 Tahun , Sosok Penting di Balik Kesuksesan Lionel

09 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.