Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menteri Wihaji: Teknologi Diciptakan untuk Bantu Manusia, Bukan Kita Melayani Teknologi

📅 Jumat, 01 Agu 2025, 08:38 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Menteri Wihaji: Teknologi Diciptakan untuk Bantu Manusia, Bukan Kita Melayani Teknologi Doc: BKKBN
Ket. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, saat memberikan Keynote Speech pada kegiatan The 54th IPB Strategic Talk di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Kamis (31/7)

BOGOR- Program Keluarga Berencana (KB) bisa dianggap selesai di Indonesia karena Total Fertility Rate (TFR) sudah berada di posisi 2,1. Artinya, rata-rata perempuan Indonesia melahirkan dua anak selama masa reproduksinya. Saat ini ada enam provinsi dengan TFR kurang dari 2. Di antaranya Daerah Khusus Jakarta dengan TFR 1,8, Yogyakarta 1,7, dan Sulawesi Selatan 1,1. 

"Saya anggap isu tentang kependudukan dalam pengendalian selesai. Yang ditindaklanjuti adalah saya bikin Grand Desain Pembangunan Kependudukan (GDPK),"ungkap Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, saat memberikan Keynote Speech pada kegiatan The 54th IPB Strategic Talk berjudul "Sinergi Keluarga dan Negara dalam Perlindungan Anak di Era Digital", bertempat di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Kamis (31/7).

Dalam paparannya, Menteri Wihaji berharap kampus bisa menjadi tempat melahirkan ide, gagasan, frame, sementara tugas kementerian adalah bekerja. "Saya berharap betul ada ide dan gagasan baru dari akademisi yang nanti menjadi kekuatan, dan tugas saya membikin work," ujar Menteri Wihaji seraya menyebut program pembangunan keluarga yang belum menjadi isu penting bagi orang-orang tertentu, tapi bagi negara, bagi Presiden, justru sudah memunculkan banyak isu tentang keluarga.

Dengan mengutip data Pusdatin Kemendukbangga/BKKBN 2024, Menteri Wihaji mengungkap bahwa jumlah keluarga di Indonesia telah mencapai 72 juta keluarga, dan sekitar 40 juta adalah PUS (Pasangan Usia Subur). Adapun jumlah kepala rumah tangga perempuan ada sebanyak 11,5 juta. 

Data berikutnya, ada 3,5 juta bayi berusia dua tahun, usia 10-24 tahun sejumlah 36 juta. Sementara lansia 60 tahun ke atas sejumlah 21 juta jiwa atau 11,7 persen dari total populasi. Dengan jumlah lansia sebanyak itu, menurut Menteri, Indonesia sudah berada di posisi ageing population. "Itu (lansia) menjadi salah satu pekerjaan rumah kita," ungkap Menteri Wihaji.

Menteri Wihaji juga mengatakan, satu dari tujuh anak pernah mengalami perundungan daring, baik melalui medsos, aplikasi chating, maupun game online. "Hari ini yang mempunyai anak hati-hati dengan game tertentu. Sebab, empat dari 100 anak menjadi korban eksploitasi seksual," ungkap Menteri Wihaji. 

Juga disebutkan, 37,5 persen anak pernah mendapat edukasi formal dan informal tentang keamanan digital, dan 28 persen mengaku tidak didampingi orang tua saat menggunakan internet.

Kehadiran Keluarga Baru

Menteri Wihaji juga menyebut keluarga-keluarga di Indonesia saat ini kehadiran "keluarga baru", yang sangat mempengaruhi algoritma manusia. Siapa keluarga baru itu? "Kadang ia jadi ayah, jadi bapak, jadi anak. Kadang pula jadi orang tua atau setan. Keluarga baru itu adalah handphone," ujar Menteri.

Bagi Menteri Wihaji, kehadiran handphone bukan sesuatu yang sederhana, karena ia telah menjadi "penyakit baru". "Anak remaja rata-rata hobinya rebahan, karena semuanya bisa diselesaikan dengan handphone," imbuhnya.

Disebutkan juga bahwa 20,9 persen anak Indonesia mengalami kesepian. Data ini berbanding lurus dengan data UNICEF dan WHO, di mana 20,9 persen anak mengalami fatherless atau kehilangan sosok ayah. Dampaknya bisa buruk, karena fakta menunjukkan hampir 85,2 persen anak remaja mengakses internet.

"Sesungguhnya teknologi diciptakan untuk membantu kita. Bukan diciptakan untuk kita melayani teknologi atau sebaliknya kita menjadi buruhnya teknologi," katanya.

Menteri Wihaji mengatakan, kalau keluarga baik-baik saja maka akan baik-baik saja bangsa dan negara. Karena masalah negara dimulai dari keluarga. Dan kekuarga pulalah yang menjadi fondasi berbangsa dan bernegara. 

Sementara itu, Rektor IPB University Prof. dr. Arif Satria mengatakan bahwa kegiatan yang diselenggarakan IPB University dan Kemendukbangga/BKKBN ini menjadi wadah dialog terbuka yang mempertemukan pengambil kebijakan, akademisi, dan organisasi internasional. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

49 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.