Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tiga Tahun Perjalanan BRIN, Birokratisasi atau Birokrasi untuk Riset dan Inovasi?

📅 Minggu, 22 Sep 2024, 14:29 WIB | Oleh: Tim Penulis

Belajar dari Australia dan India

Sentralisasi riset di BRIN bertolak belakang dengan tren global yang mengarah pada desentralisasi, di mana kegiatan penelitian dan pengembangan tidak lagi terpusat di satu lembaga atau lokasi tertentu, melainkan didistribusikan ke berbagai institusi, wilayah, atau unit otonom.

Jika tidak bisa menerapkan desentralisasi penuh, BRIN mungkin bisa belajar dari Australia dengan mengkombinasikan pendekatan desentralisasi dan sentralisasi.

Di level nasional, pemerintah federal menetapkan agenda riset nasional dan memberikan dukungan keuangan yang stabil melalui lembaga seperti Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation atau CSIRO. Badan riset serupa BRIN ini berperan mengorkestrasi riset dan inovasi skala nasional serta mengoperasikan infrastruktur riset.

Meskipun CSIRO mewadahi hampir seluruh bidang riset, Australia juga memiliki badan riset lain seperti Australian Nuclear Science and Technology Organisation atau ANSTO yang berfokus pada riset nuklir.

Di skema desentralisasi, pemerintah negara bagian mendorong riset-riset terapan untuk pertumbuhan ekonomi dengan menggandeng universitas-universitas di daerah.

Kombinasi antara dua pendekatan ini dapat dilihat dari peran National Collaborative Research Infrastructure Strategy atau NCRIS yang memfasilitasi peneliti dengan infrastruktur riset dan mengucurkan dana untuk proyek riset nasional. Sistem ini membuat Australia dapat menjaga institusi riset mereka tetap kuat dan kritis sehingga mampu melawan kepentingan politik jangka pendek.

Adapun pengelolaan riset di bawah BRIN saat ini lebih mirip dengan Council of Scientific and Industrial Research atau CSIR di India. CSIR bertanggung jawab atas 38 laboratorium yang tersebar di India dan memiliki fungsi penganggaran, perencanaan, dan pengelolaan infrastruktur riset.

Di CSIR, Perdana Menteri Narendra Modi duduk sebagai Presiden CSIR serta Menteri Sains dan Teknologi sebagai wakilnya, sedangkan posisi eksekutif CSIR dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal. Dengan kondisi ini, CSIR rentan mengalami politisasi dan birokratisasi riset. Pimpinan CSIR bahkan mereduksi transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan hingga menutup akses informasi proses riset dan performa laboratorium dari para penelitinya.

Mencari model birokrasi yang tepat untuk riset dan inovasi

Untuk mendukung ekosistem riset dan inovasi, Indonesia butuh model birokrasi yang kuat. Model birokrasi untuk inovasi yang tepat harus mendukung berbagai peran; creators (pencipta inovasi); doers (pelaksana riset); funders (penyedia dana); intermediaries (penghubung antara riset dan industri); dan rulers (pengatur kebijakan).

Memaksakan BRIN menjalankan semua fungsi di atas justru melawan praktik baik riset dan inovasi global . BRIN juga semakin rentan terhadap penyelewengan kekuasaan.

Alih-alih merombak lagi struktur yang ada, pemerintah sebaiknya mengembalikan fungsi BRIN sesuai arahan UU Sisnas Iptek 2019 sebagai koordinator riset nasional dan memastikan mekanisme pendanaan yang efektif bagi riset.The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.