Pertanian dan Ekonomi Desa Harus Dapat Perhatian Lebih
📅 Jumat, 06 Jan 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiEkonom Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, sepakat dengan yang disampaikan Fadhil Hasan. Menurut Esther, pemerintah harus menghadapi tantangan-tantangan di sektor pangan dan pertanian tersebut dengan melakukan beberapa hal untuk mengatasi problem itu.
Pertama, untuk mengatasi regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian, pemerintah harus menjaga nilai tukar petani agar stabil. Artinya, pada saat panen raya pastikan harga komoditas pertanian tidak anjlok.
Kemudian, untuk menjaga kestabilan harga, pemerintah bisa menghidupkan kembali warehousing financing (resi gudang). Persoalan kenapa warehousing financing banyak yang mati suri, karena petani harus mengeluarkan ongkos transportasi dari kebun ke gudang. Lembaga asuransi enggan meng-cover komoditas pertanian, lalu perbankan juga kurang tertarik.
Ada prosedur yang harus dipenuhi petani untuk menyimpan hasil panennya di gudang seperti kelembapan air, berapa persen kerusakannya, dan lain-lain. "Problem itu harus diatasi dulu," tandas Esther.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketiga, perkuat akses petani ke lembaga pembiayaan dan pasar dengan kolaborasi antar-stakeholder, dan juga harus memperluas akses petani ke rantai pasok global dengan meningkatkan daya saing petani. "Caranya harus dengan meningkatkan pengetahuan dan teknologi pascapanen," katanya.

Ekonomi Pedesaan
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, pengamat pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Surabaya, Zainal Abidin, mengatakan seiring bertambahnya penduduk dunia, tantangan sektor pangan dan pertanian ke depan akan semakin berat. Untuk itu, sektor pertanian dan ekonomi pedesaan harus mendapat perhatian lebih.
"Urbanisasi dan ketimpangan pertumbuhan penduduk disebabkan sektor pertanian dirasa kurang menguntungkan bagi masyarakat desa karena hasil petani selalu kalah dengan impor. Agar generasi mudanya tertarik, pertanian harus menguntungkan, ekonomi desa harus lebih bergerak," kata Zainal.
BUMN harus menjalankan fungsi strategisnya menekan impor dan mengatasi kondisi rawan pangan, dengan melakukan hilirisasi subtitusi impor pangan nasional. Selama ini banyak komoditas primer yang terhenti di hilirisasi.
BUMN juga Harus memperpanjang hilirisasi produknya dengan integrasi vertikal, yakni produk primer menjadi produk sekunder, lalu tersier, dan seterusnya. Agroindustri hilir ini harus dikembangkan. Dengan begitu, ekonomi desa akan lebih hidup," tuturnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!