Xanana Gusmão Raih Gelar Doktor Kehormatan dari Unhas, Ini Alasan di Baliknya!
📅 Sabtu, 05 Sep 2026, 15:10 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoMAKASSAR - Perdana Menteri Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao menerima anugerah doctor honoris causa atau doktor kehormatan dari Universitas Hasanuddin di Gedung AP Pettarani, Unhas Tamalanrea, Makassar, Sabtu.
Xanana Gusmao dinilai layak karena berperan signifikan membawa negaranya melewati masa konflik menuju pembangunan.
Dalam riwayat hidup dan rekam jejak Xanana yang dibacakan oleh Dr (HC) Luthfi Rauf, MA selaku Co-Promotor, Xanana Gusmao dinilai sebagai tokoh yang memiliki pengabdian penting, tidak hanya bagi Timor Leste, tetapi juga bagi kawasan dan masyarakat internasional.
Lahir di Manatuto, Timor Leste, pada 20 Juni 1946, perjalanan kepemimpinan Xanana Gusmão tumbuh bersama sejarah perjuangan bangsa Timor Leste.
Pada dekade 1970-an, ia aktif dalam gerakan politik yang kemudian berkembang menjadi Fretilin. Pada 1981, Xanana terpilih sebagai pemimpin perlawanan sekaligus Commander in Chief Falintil.
Setelah 17 tahun menjalani perjuangan gerilya, Xanana Gusmão ditangkap pada 1992 dan menjalani masa tahanan di Indonesia. Penahanan tersebut tidak menghentikan perjuangannya.
Dari dalam penjara, Xanana mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan hukum. Ia juga menulis serta melukis. Pada 1998, ia kembali dikukuhkan sebagai pemimpin perlawanan Timor Leste.
Xanana kemudian dibebaskan pada 7 September 1999, setelah referendum yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa membuka jalan bagi proses menuju kemerdekaan Timor Leste.
Perjalanan Xanana selanjutnya memasuki babak baru, dari seorang pemimpin perjuangan menjadi negarawan. Pada 14 April 2002, ia terpilih sebagai Presiden Republik Demokratik Timor Leste dan dilantik pada 20 Mei 2002 sebagai presiden pertama negara tersebut.
Usai menyelesaikan masa jabatannya pada 2007, Xanana kembali dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan dan Keamanan. Ia kembali terpilih sebagai Perdana Menteri pada 2012.
Dalam kepemimpinannya, Xanana memberikan perhatian pada konsolidasi perdamaian, persatuan nasional, penguatan demokrasi, pembangunan ekonomi, serta penguatan institusi negara.
Salah satu kontribusi strategisnya adalah memimpin proses konsultasi dan penyusunan Timor Leste Strategic Development Plan 2011–2030, yang menjadi kerangka penting bagi arah pembangunan jangka panjang Timor Leste.
Rekam jejak Xanana juga menonjol dalam diplomasi dan penyelesaian persoalan antarnegara. Pada 2016, Pemerintah Timor Leste menunjuknya sebagai Chief Negotiator for Council for the Final Delimitation of Maritime Boundaries.
Dalam kapasitas tersebut, Xanana memimpin delegasi Timor Leste dalam perundingan dengan Australia melalui mekanisme Compulsory Conciliation berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!