Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pendidikan Vokasi Harus Siap Hadapi Transisi Digital

📅 Senin, 22 Jul 2024, 03:03 WIB | Oleh:
Pendidikan Vokasi Harus Siap Hadapi Transisi Digital Doc: Koran Jakarta/M.Ma'ruf
Ket. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kiki Yuliati.

Lulusan vokasi harus dibentuk secara matang untuk menghadapi sejumlah tantangan Generasi Emas 2045, salah satunya adanya transisi digital yang berdampak pada pasar tenaga kerja.

JAKARTA - Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kiki Yuliati, mengatakan, pendidikan vokasi harus bersiap menghadapi tantangan Generasi Emas 2045. Menurutnya, lulusan vokasi harus dibentuk secara matang untuk menghadapi sejumlah tantangan.

"Ada sejumlah tantangan perubahan struktural yang terjadi di masyarakat yang mengubah kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Tantangan pertama ada transisi digital yang berdampak besar pada pasar tenaga kerja dalam dekade terakhir," ujar Kiki, dalam acara Rembuk Pendidikan Vokasi: SkillsIndonesia 2045, di Jakarta, pekan lalu.

Dia menuturkan, ada tantangan perihal menyusutnya ketersediaan lapangan kerja. Pada tahun 2030 diprediksi akan ada 23 juta pekerja di Indonesia akan kehilangan pekerjaan karena digantikan teknologi otomasi.

Tantangan kedua, kata Kiki, adalah adanya transisi masyarakat yang beralih ke pola konsumsi dan produksi yang lebih ramah lingkungan. Untuk itu dibutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan ramah lingkungan.

"Secara global, jumlah lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan ramah lingkungan tumbuh 22,4 persen misal di bidang pemeliharaan dan perbaikan mobil ketika mengerjakan mobil listrik," terangnya.

Dia melanjutkan, tantangan ketiga adalah transisi demografi. Generasi muda produktif akan mencapai puncaknya pada tahun 2030, sehingga perlu strategi percepatan untuk menyiapkan tenaga terampil tinggi di tahun-tahun tersebut.

Terakhir, Kiki menyebut tantangannya adalah transisi otonomi daerah mengingat pendidikan di Indonesia sudah terdesentralisasi. Dengan demikian, otonomi daerah juga penting untuk menjadi perhatian dalam pemajuan pendidikan vokasi ke depan.

"Semakin otonom daerah mengembangkan kebijakan pembangunannya, maka penyediaan tenaga terampilnya juga harus tersebar di sektor tenaga kerja," tuturnya.

Strategi Baru

Kiki mengungkapkan, pihaknya merancang program baru dalam rangka pemajuan pendidikan vokasi.

Program bernama SkillsIndonesia 2045 akan mendorong percepatan relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.

Dia menilai, perlu ada sistem yang bisa memantau dan menganalisis pergeseran pasar tenaga kerja mengingat adanya perubahan kebutuhan keterampilan kerja. Dengan demikian, pendidikan vokasi mesti mampu menyesuaikan program dan menawarkan pilihan pembelajaran yang relevan untuk dunia kerja.

"SkillsIndonesia 2045 dirancang untuk bisa merespons secara cepat dan relevan permintaan dunia kerja yang terus berubah," ujarnya. ruf/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
Resmi Masuk DK PBB, Kirgist...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.