'Bediding' Menerpa Malang Raya Capai Suhu 17-18 Derajat Celsius, BMKG Ungkap Penyebabnya!
📅 Kamis, 04 Jun 2026, 18:10 WIB | Oleh: OpikMALANG, JAWA TIMUR - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur di Kabupaten Malang menyebut fenomena bediding atau suhu dingin saat musim kemarau, khususnya di Malang Raya disebabkan aktifnya angin monsun timuran bersifat kering dan dingin.
"Bediding merupakan kondisi dengan suhu lingkungan lebih dingin dibandingkan normalnya, ini merupakan siklus musiman dan ditandai dengan aktifnya angin monsun timuran yang sifatnya kering dan dingin," kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Linda Fitrotul di Malang, Kamis (4/6).
Kondisi tersebut juga dikarenakan saat musim kemarau tidak ada lagi tutupan awan dan rendahnya intensitas hujan.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur memperkirakan fenomena bediding akan terjadi dalam kurun waktu antara Juni sampai dengan September 2026 yang merupakan periode musim kemarau.
Adapun ciri fenomena bediding, salah satunya adalah suhu udara pada pagi dan malam hari akan terasa lebih dingin dari biasanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Linda menyampaikan rata-rata suhu udara saat ini yang bertepatan dengan bediding berkisar antara 17-18 derajat Celsius dengan perkiraan waktu mulai pukul 03.00 sampai dengan 06.00 WIB.
"Kalau malam hari akhir-akhir ini saat bediding tercatat 20-21 derajat Celsius," ujar dia.
Suhu pada malam hingga dini hari itu, lanjutnya, lebih rendah jika dibandingkan saat pagi dan siang hari.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Berdasarkan pengamatan pukul 07.30 WIB rata-rata suhu saat pagi sekitar 22-25 derajat Celsius, kemudian saat siang sekitar pukul 12.00-14.00 WIB suhunya sekitar 27-29 derajat Celsius ketika bediding," ucapnya.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyatakan bediding memberikan dampak terhadap pertanian dan peternakan.
Untuk pertanian hal yang perlu diwaspadai, yakni embun es di daerah dataran tinggi dan dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman sayuran, bunga serta tanaman hortikultura.
Kemudian, pada peternakan mampu menyebabkan hewan ternak mengalami kondisi stres, bahkan memicu penyakit hingga kematian. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!