Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspada, Defisit Neraca Transaksi Berjalan Q2-2026 Berpotensi Melebar

2 Kamis, 04 Jun 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspada, Defisit Neraca Transaksi Berjalan Q2-2026 Berpotensi Melebar Waspada, Defisit Neraca Transaksi Berjalan Q2-2026 Berpotensi Melebar Doc: istimewa
Ket. Struktur Ekonomi RI - Kenaikan Impor Migas Mulai Menggerus Surplus Perdagangan

JAKARTA - Pemerintah diminta mewaspadai potensi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan atau Current Account Deficit/CAD) pada kuartal II-2026 seiring menyempitnya surplus neraca perdagangan akibat lonjakan impor migas dan tingginya harga energi global.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan surplus neraca perdagangan pada April 2026 tercatat sebesar 89,1 juta dollar AS, menurun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang surplus 3,32 miliar dollar AS.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (3/6) mengatakan selama beberapa tahun terakhir, Indonesia relatif terbantu oleh surplus perdagangan komoditas yang besar.

“Namun ketika harga energi naik dan impor migas meningkat, maka bantalan tersebut mulai menipis. Jika tren ini berlanjut, kita berpotensi melihat pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal kedua tahun ini,” kata Fakhrul.

Adapun ekspor tumbuh kuat menjadi 25,30 miliar dollar AS atau meningkat 21,98 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di sisi lain, impor pun melonjak menjadi 25,21 miliar dollar AS atau meningkat 22,49 persen secara tahunan.

Lebih lanjut Fakhrul mengingatkan bahwa perhatian utama pasar saat ini bukan lagi sekadar besarnya ekspor Indonesia, melainkan kecepatan kenaikan impor migas yang mulai menggerus surplus perdagangan.

Ia juga menyoroti kenaikan impor migas yang signifikan atau meningkat lebih dari 80 persen secara tahunan mencapai 4,60 miliar dollar AS pada April 2026. “Lonjakan ini terutama berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah yang meningkat tajam akibat kenaikan kebutuhan energi dan dampak perang di Timur Tengah terhadap harga minyak dunia,” katanya.

Defisit sektor migas Indonesia pada April 2026 mencapai 3,44 miliar dollar AS. Sementara surplus nonmigas yang sebesar 3,53 miliar dollar AS hampir seluruhnya habis digunakan untuk menutup kebutuhan impor energi. Akibatnya, surplus perdagangan nasional hanya tersisa sekitar 89 juta dollar AS.

Kondisi tersebut, menurut Fakhrul, perlu menjadi perhatian karena perdagangan barang merupakan fondasi utama bagi transaksi berjalan Indonesia.

Risiko tersebut semakin relevan karena pada saat yang sama tekanan inflasi energi juga mulai terlihat di dalam negeri. Data inflasi Mei 2026 menunjukkan kelompok transportasi masih mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi, terutama pada bensin, solar, tarif angkutan udara, dan pelumas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak perang belum sepenuhnya selesai dan masih merambat ke perekonomian domestik.

Di sisi lain, Fakhrul mengapresiasi kinerja ekspor Indonesia yang masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik, dengan ekspor nonmigas mencapai 24,15 miliar dollar AS pada April 2026 atau tumbuh 23,36 persen secara tahunan.

Namun, ia mengingatkan bahwa pasar keuangan biasanya lebih sensitif terhadap perubahan pada neraca pembayaran dibandingkan sekadar pertumbuhan ekspor.

Menurut Fakhrul, investor kini mencermati kemampuan Indonesia dalam menghasilkan surplus devisa yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.

“Ketika surplus perdagangan turun dari miliaran dollar menjadi hanya puluhan juta dollar dalam satu bulan, tentu pasar akan mulai mempertanyakan arah transaksi berjalan ke depan,” katanya.

Oleh sebab itu, Fakhrul mendorong perbaikan bauran kebijakan makroekonomi. Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas rupiah tidak bisa hanya ditopang oleh kebijakan moneter. Perbaikan struktur neraca pembayaran dinilai menjadi prioritas.

“Dalam konteks ini, kurva imbal hasil yang lebih kredibel dan kebijakan fiskal yang selaras akan menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Nasional
Kaster TNI Pimpin Serah Ter...
Advertisement
Warga Asli Minang Itu Menjadi Orang Nomor Satu di Kota Mississauda, Kanada   

Warga Asli Minang Itu Menjadi Orang Nomor Satu di Kota Mississauda, Kanada  

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.