Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal
📅 Senin, 24 Agu 2026, 07:28 WIB | Oleh: Haryo BronoKetika Kerajaan Mali mulai runtuh, Kaabu mengambil alih kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Dengan demikian, Kaabu berhasil menguasai muara Sungai Gambia dan kawasan pesisir Atlantik di sebelah selatannya.
Kehadiran sungai-sungai besar seperti Senegal dan Gambia menjadikan Senegambia jalur ekonomi utama menuju pedalaman Afrika. Jalur perdagangan membentang dari pantai hingga ke pedalaman. Budak, emas, dan gading diangkut menuju Mali, Sudan, dan terus ke timur hingga Jazirah Arab.
Masyarakat Afrika Sub-Sahara pada masa itu belum mengenal pelayaran laut jarak jauh. Bagi mereka, lautan adalah titik akhir, bukan jalur menuju negeri asing. Namun, kedatangan para pelaut Eropa mengubah pandangan tersebut.
Pada tahun 1456, penjelajah asal Venesia yang bekerja untuk Portugal, Alvise da Cadamosto (1432–1488), tiba di muara Sungai Gambia. Ia menyusuri sungai dan membeli emas serta budak dari para pedagang lokal.
Peristiwa ini menjadi titik balik penting: Gambia resmi masuk ke dalam jaringan perdagangan internasional Eropa.
Bangsa Portugis kemudian membuat perjanjian perdagangan dengan para penguasa Kaabu dan pemimpin lokal lainnya. Mereka menukar emas, budak, gading, dan hasil bumi Afrika dengan barang-barang Eropa seperti tekstil dan senjata api.
Kekuasaan Inggris
Wilayah Gambia modern mulai terbentuk pada April 1816 ketika Royal Navy (Angkatan Laut Inggris) berlayar dari Gorée dan menduduki Pulau Banjul demi menguasai muara Sungai Gambia secara penuh.
Pulau Banjul kemudian diubah namanya menjadi St. Mary, dan sebuah permukiman baru bernama Bathurst didirikan di sana—yang kini kita kenal sebagai Banjul, ibu kota Gambia. Dari basis inilah Angkatan Laut Inggris menindak perdagangan budak ilegal.
Hingga dekade 1940-an, keluarga Aku seperti keluarga Forster memegang pengaruh politik yang kuat. Setelah periode tersebut, partai-partai politik mulai bermunculan. Partai United Party (UP) dan People’s Progressive Party (PPP)—yang sangat populer di kawasan pedesaan—mulai mendominasi panggung politik Gambia menuju kemerdekaan. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!