Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemenbud, BRWA, dan AMAN Integrasikan Data 3.857 Komunitas Adat untuk Percepat Pengakuan Hak

📅 Kamis, 20 Agu 2026, 14:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
 Kemenbud, BRWA, dan AMAN Integrasikan Data 3.857 Komunitas Adat untuk Percepat Pengakuan Hak Doc: istimewa
Ket. Penandatangan Perjanjian Kerjasama Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) dengan Direktorat BKMA Kementerian Kebudayaan disaksikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Rabu (19/8)

JAKARTA – Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), dan Direktorat Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan (BKMA Kemenbud) resmi meluncurkan integrasi data masyarakat adat. Sebanyak 3.857 data komunitas masyarakat adat dari tiga lembaga itu kini terintegrasi dalam satu sistem.

Peluncuran dilakukan dalam kegiatan Launching Integrasi Data dan Gelar Wicara Satu Data Masyarakat Adat di Plaza Insan Berprestasi Kemendikdasmen Jakarta, Rabu (19/8).

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan integrasi data sangat penting untuk intervensi kebijakan pemerintah. “Sebab kelemahan kita memang seringkali soal data. Kalau datanya tidak beres, intervensi kebijakan pasti kurang beres,” tegas Fadli Zon.

Ia menjelaskan integrasi ini tidak hanya membuat basis data, tetapi juga mencatat komunitas, sejarah, bahasa, pengetahuan, hingga tradisi leluhur. 

“Kita memastikannya hidup, berkembang dan diwariskan melalui kegiatan dan program kebijakan,” ujarnya.

Data Spasial Jadi Kunci Pengakuan Wilayah

Kepala BRWA Kasmita Widodo menekankan pentingnya integrasi peta wilayah adat dalam kerangka Satu Peta dan Satu Data Indonesia. Menurutnya, data masyarakat adat tidak hanya mencakup aspek sosial dan budaya, tetapi juga aspek spasial berupa wilayah adat.

Kasmita menyoroti regulasi tumpang tindih dan sektoral soal perizinan dan kawasan hutan yang sering meminggirkan masyarakat adat dari ruang hidupnya. 

“Kecepatan pemerintah untuk mengakui soal ini masih jadi hambatan. Sebabnya karena komitmen politik dan tidak adanya alokasi anggaran dalam penetapan pengakuan wilayah masyarakat adat,” jelasnya.

Untuk memperkuat sinergi, BRWA dan Direktorat BKMA Kemenbud menandatangani perjanjian kerjasama yang disaksikan Fadli Zon dan Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi.

Advokasi Berbasis Bukti dan Dorongan RUU Masyarakat Adat

Tokoh masyarakat adat dan DPR sepakat data terintegrasi menjadi fondasi kebijakan berbasis bukti.

Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi menyoroti UU sektoral seperti UU Konservasi yang disebutnya menjadi legitimasi penghancuran wilayah adat. 

“Tanpa sepengetahuan masyarakat adat, tanah mereka diberikan ke perusahaan. Ketika masyarakat adat melawan, maka ganjarannya menjadi kriminal,” kata Rukka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.