Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hasil Studi: Pramugari dan Pilot Paling Berisiko Terkena Kanker terkait Radiasi

📅 Kamis, 20 Agu 2026, 13:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hasil Studi: Pramugari dan Pilot Paling Berisiko Terkena Kanker terkait Radiasi  Doc: Business Insider
Ket. Di antara lebih dari 500 jenis pekerjaan, pramugari memiliki persentase kematian akibat kanker terkait radiasi paling tinggi, sedangkan pilot berada di urutan kedua.

Studi terbaru yang dipublikasikan di JAMA Internal Medicine mengungkapkan dua pekerjaan yang memiliki risiko kematian tertinggi akibat kanker yang berkaitan dengan paparan radiasi.

Menurut laporan New York Post, Rabu (19/8), penelitian tersebut menggunakan data nasional di Amerika Serikat dari lebih dari 12 juta sertifikat kematian yang mencantumkan informasi mengenai pekerjaan.

Para peneliti menganalisis angka kematian akibat berbagai jenis kanker yang berkaitan dengan paparan radiasi, termasuk leukemia, limfoma, multiple myeloma, kanker kulit, payudara, tiroid, prostat, dan sistem saraf pusat.

Di antara lebih dari 500 jenis pekerjaan, pramugari memiliki persentase kematian akibat kanker terkait radiasi paling tinggi, sedangkan pilot berada di urutan kedua.

Pada kedua profesi tersebut, kemungkinan meninggal akibat berbagai jenis kanker terkait radiasi juga ditemukan lebih tinggi dari biasanya. Sebaliknya, kedua kelompok tersebut tidak menunjukkan angka kematian yang lebih tinggi dari normal akibat kanker yang tidak berkaitan dengan paparan radiasi.

Menurut penulis tinjauan studi tersebut Catherine Olsen dan Ken Karipidis, temuan itu mendukung hipotesis bahwa "paparan radiasi akibat pekerjaan, bukan gaya hidup atau faktor sosial ekonomi, menjadi penyebab meningkatnya risiko tersebut".

Para peneliti menemukan bahwa pramugari memiliki kemungkinan sekitar 50 persen lebih tinggi meninggal akibat kanker terkait radiasi dibandingkan populasi pekerja secara umum. Sementara itu, pilot memiliki kemungkinan sekitar 36 persen lebih tinggi.

Penulis utama studi, Dr. Vishal Patel dari Harvard Medical School mengatakan jika dilihat dari risiko absolut, sekitar 6,9 persen kematian pramugari disebabkan oleh kanker-kanker tersebut, atau sekitar 1 dari 14 kematian. Pada pilot, angkanya mencapai 6,7 persen.

Sementara pada populasi pekerja secara umum, angkanya sekitar 5 persen.

Meski demikian, para peneliti mengakui terdapat sejumlah keterbatasan dalam studi tersebut, seperti tidak mengetahui seberapa besar paparan radiasi yang diterima masing-masing pramugari dan pilot selama bekerja di udara maupun dari sumber lainnya.

Mereka juga tidak menghitung faktor-faktor kesehatan lainnya yang berkaitan dengan profesi tersebut karena kanker bisa memburuk akibat gangguan jam biologis tubuh yang antara lain disebabkan oleh jet lag dan jam bekerja tidak menentu. Selain itu, terdapat kemungkinan kesalahan dalam mencatat pekerjaan pada sejumlah sertifikat kematian.

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (Federal Aviation Administration/FAA) telah mengakui bahwa awak pesawat terpapar radiasi pengion. Namun, pemerintah AS tidak menetapkan batas dosis radiasi secara federal maupun mewajibkan pemantauan paparan tersebut, menurut para penulis penelitian.

"Kita tidak dapat mengelola paparan yang kita pilih untuk tidak diukur," kata Patel melalui email.

Sara Nelson, yang memimpin serikat pekerja Association of Flight Attendants-CWA yang mewakili sekitar 55.000 pramugari, mengatakan laporan tersebut semakin menegaskan bahwa paparan radiasi perlu diperhatikan secara serius, sebagaimana telah disampaikan serikat pekerja selama bertahun-tahun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Airlangga: Indonesia Prioritaskan Transformasi Industri Berbasis Tenaga Surya
    Preview komentar:
    Langkah strategis pemerintah menargetkan 100 GW tenaga surya ...
  • Badan Pangan Nasional Usul Tambahan 150 Ribu Ton SPHP Jagung Perkuat Peternak Mikro
    Preview komentar:
    Kebijakan strategis Bapanas mengusulkan tambahan 150 ribu ton ...
  • Impor Udang Vaname 120 Ton Lewat Kawasan Berikat, KKP Minta Industri Utamakan Produksi Lokal
    Preview komentar:
    Ulasan mengenai sinergi antara asosiasi pembudi daya dan ...
Daerah
Polda dan 22 Ormas se-Bante...
BPBD: 170 Unit Rumah Rusak akibat Cuaca Ekstrem yang Terjadi di Medan

BPBD: 170 Unit Rumah Rusak akibat Cuaca Ekstrem yang Terjadi di Medan

20 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.