Review Harusnya Horror: Hantu Wibu, Komedi, dan Kreator Konten dalam 106 Menit
📅 Kamis, 20 Agu 2026, 14:12 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Membawa karya yang lahir dari ekosistem kreator internet ke bioskop bukan sekadar memindahkan wajah dan gaya hiburan dari platform digital ke layar lebar.
Tantangan yang lebih besar justru terletak pada kemampuan mengembangkan gagasan, membangun karakter, dan menjaga ritme cerita ketika durasinya jauh lebih panjang. Persoalan tersebut terasa dalam film komedi fantasi Harusnya Horror karya sutradara Reza Oktovian.
Film produksi Ess Jay Studios ini menawarkan premis yang cukup segar. Ceritanya memadukan komedi, horor, budaya populer Jepang, dan kehidupan kreator konten melalui kisah tentang hantu yang harus menjalankan misi di dunia manusia.
Namun, gagasan yang memiliki potensi tersebut belum sepenuhnya menemukan bentuk yang efektif ketika dikembangkan menjadi film panjang berdurasi 106 menit.
Masalahnya bukan semata-mata soal durasi, melainkan bagaimana durasi tersebut diisi. Dalam film komersial, durasi 90 hingga 120 menit memang lazim untuk memberi ruang bagi perkembangan karakter dan konflik. Namun, durasi panjang juga menuntut struktur cerita yang mampu mempertahankan perhatian penonton.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam Harusnya Horror, sejumlah bagian justru terasa seperti pengembangan sketsa komedi yang diperpanjang menjadi rangkaian adegan.
Jika sejak awal dikembangkan sebagai film pendek, premis utama Harusnya Horror sebenarnya berpeluang tampil lebih padat. Kisah tentang seorang pria penggemar anime yang meninggal secara tak terduga lalu mendapat kesempatan kembali ke dunia sebagai arwah penasaran sudah memiliki konflik dan tujuan yang cukup jelas untuk menopang cerita berdurasi singkat.
Tokoh Mas, seorang pekerja kantoran sekaligus penggemar anime, dikisahkan meninggal setelah tersedak kopi ketika bekerja lembur seorang diri. Ia kemudian berada di alam baka dalam kondisi masih menyimpan rasa penasaran karena belum menyaksikan episode terakhir anime kesayangannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Alih-alih langsung memperoleh ketenangan setelah kematian, Mas justru mendapat tugas kembali ke dunia manusia sebagai arwah yang harus menakut-nakuti sejumlah orang. Imbalannya adalah kesempatan menuntaskan rasa penasarannya terhadap serial anime tersebut.
Premis itu kemudian dipertemukan dengan sekelompok kreator konten pemula yang sedang menghadapi persoalan finansial. Mereka melihat keberadaan Mas sebagai peluang membuat konten mistis yang dapat mendatangkan penonton sekaligus pemasukan. Pertemuan dua dunia inilah yang menjadi fondasi komedi Harusnya Horror.
Sayangnya, potensi tersebut tidak selalu dikembangkan dengan ritme yang konsisten. Film beberapa kali terasa masih membawa pola hiburan khas konten digital yang mengandalkan spontanitas, interaksi antarkreator, dan lelucon internal. Pola semacam itu dapat bekerja baik dalam video berdurasi pendek, tetapi membutuhkan penyesuaian ketika dibawa ke struktur film panjang.
Perbedaan karakter penonton juga menjadi faktor penting. Penonton yang sudah mengenal para kreator mungkin lebih mudah memahami gaya humor dan karakter masing-masing pemain. Sebaliknya, penonton bioskop yang tidak memiliki kedekatan dengan ekosistem tersebut membutuhkan pengenalan karakter yang lebih kuat agar setiap lelucon dan konflik memiliki bobot.
Sebagian pemeran utama film ini memang berasal dari kalangan kreator konten, seperti Tierison yang memerankan Kevin, Garry Ang, Yukatheo, Teguh Prakoso (Tepe), Niko Junius, King Aloy, Bravy, dan Ibot.
Pengalaman mereka dalam menghasilkan hiburan digital menjadi modal tersendiri. Namun, perpindahan medium dari konten internet ke film juga menuntut pendekatan akting yang berbeda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!