Mengapa Argentina Jadi Tim yang Paling Dibenci Sekaligus Dikagumi di Piala Dunia?
📅 Minggu, 19 Jul 2026, 07:30 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraNEW YORK – Di setiap edisi Piala Dunia selalu ada tim yang dicintai sekaligus dibenci. Pada edisi 2026, peran itu tampaknya jatuh kepada Argentina.
Bagi sebagian penggemar sepak bola di seluruh dunia, rumusnya sederhana: dukung siapa pun yang menghadapi Argentina. Sepanjang turnamen, dukungan itu berganti-ganti mengikuti lawan Albiceleste, mulai dari Aljazair, Tanjung Verde, Swiss, hingga Inggris pada semifinal. Kini, menjelang final melawan Spanyol, banyak pendukung netral diperkirakan akan mengenakan jersey La Roja.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Argentina bukan hanya salah satu negara tersukses dalam sejarah sepak bola, tetapi juga menjadi salah satu tim nasional yang paling memecah opini publik. Kesuksesan mereka melahirkan kekaguman, namun pada saat yang sama memicu kecemburuan, kejengkelan, bahkan antipati dari para rival.
Identitas sepak bola Argentina tak bisa dipisahkan dari sosok Diego Maradona. Legenda tersebut membawa negaranya menjuarai Piala Dunia 1986 sekaligus menciptakan salah satu kisah paling kontroversial dalam sejarah sepak bola.
Dua gol Maradona ke gawang Inggris pada perempat final menjadi simbol yang terus dikenang. Gol pertama lahir lewat insiden yang kemudian dikenal sebagai "Hand of God", sementara gol keduanya, aksi solo melewati lima pemain lawan, dipilih FIFA sebagai "Goal of the Century".
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi banyak pendukung Inggris, gol "Hand of God" masih menjadi luka sejarah. Sebaliknya, bagi sebagian masyarakat Argentina, momen itu dipandang sebagai simbol perlawanan setelah Perang Falklands (Malvinas) pada tahun 1982 yang dimenangkan Inggris.
Sentimen tersebut kembali mencuat setelah kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. Seusai pertandingan, para pemain membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas" (Malvinas adalah milik Argentina), merujuk pada sengketa kepulauan Falklands. Aksi tersebut memicu perhatian karena FIFA melarang pernyataan bernuansa politik di dalam kompetisi.
Jika Maradona dikenal sebagai simbol perlawanan, Lionel Messi menghadirkan wajah berbeda bagi Argentina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karier gemilangnya bersama Barcelona menjadikan Messi salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa. Namun dominasi tersebut juga membuatnya menjadi sasaran kebencian para pendukung klub maupun negara rival.
Persaingannya dengan Cristiano Ronaldo semakin membelah komunitas sepak bola dunia menjadi dua kubu besar: pendukung Messi dan pendukung Ronaldo.
Keberhasilan Messi membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 mengakhiri perdebatan panjang mengenai statusnya di tim nasional. Sejak saat itu, popularitasnya semakin meluas hingga ke negara-negara seperti India dan Bangladesh yang memiliki jutaan penggemar Argentina.
Namun di sisi lain, tidak sedikit penggemar sepak bola yang mulai jenuh dengan narasi yang selalu berpusat pada Messi, sehingga antipati terhadap sang megabintang ikut berimbas kepada tim nasional Argentina.
Hubungan Argentina dengan negara-negara tetangganya di Amerika Latin juga tidak selalu harmonis.
Sebagai negara yang memiliki pengaruh budaya Eropa cukup kuat, Argentina sering dianggap memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Bagi sebagian orang, hal itu merupakan kebanggaan nasional. Namun bagi yang lain, sikap tersebut dipersepsikan sebagai bentuk kesombongan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!