BUMN Tak Cukup Andalkan Aset, Menperin Minta Perkuat Hilirisasi dan Rantai Pasok Industri
📅 Kamis, 20 Agu 2026, 14:17 WIB | Oleh: Tim PenulisMenurut Agus, tantangan yang dihadapi perusahaan saat ini semakin kompleks. Perubahan harga energi, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok global, perubahan suku bunga, fluktuasi nilai tukar, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga transisi energi dapat mengubah struktur bisnis dalam waktu cepat.
Selain itu, perusahaan juga harus beradaptasi terhadap berbagai regulasi global terkait emisi, traceability, sustainability, standar ketenagakerjaan, antisuap, keamanan siber, dan perlindungan data yang kini menjadi bagian penting dalam memperoleh pasar, pembiayaan, serta mitra internasional.
Hlirisasi SDA
Lebih lanjut, Menperin menyampaikan, industrialisasi bukan sekadar membangun kapasitas produksi, melainkan proses transformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menekankan, hilirisasi sumber daya alam harus menjadi titik awal untuk membangun industri bernilai tambah di dalam negeri. Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pemasok bahan mentah atau hanya menjadi pasar bagi produk negara lain.
Pihaknya mencatat, fundamental industri nasional saat ini menunjukkan kinerja positif. Pada triwulan II tahun 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 16,83 persen terhadap PDB nasional atau sekitar Rp1.102,88 triliun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari sisi investasi, realisasi investasi industri pengolahan nonmigas mencapai Rp199,48 triliun atau memberikan kontribusi sebesar 38,89 persen dari total investasi nasional. Sementara itu, penyerapan tenaga kerja sektor tersebut hingga Februari 2026 mencapai 19,99 juta orang.
Pada Januari–Juni 2026, ekspor industri pengolahan nonmigas menembus 115,50 miliar dolar AS atau berkontribusi 82,03 persen terhadap total ekspor nasional.
Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 berada pada level 53,1 dan PMI Manufaktur Indonesia kembali berada di zona ekspansi pada level 50,2.
Dari sisi Manufacturing Value Added (MVA), nilai MVA Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 275,61 miliar dolar AS yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-12 dunia sekaligus terbesar di Asia Tenggara.
Capaian tersebut, menurut Agus, memperlihatkan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!