Kampanye “Berani Bicara Berat” Tegaskan Obesitas Sebagai Penyakit Kronis
📅 Sabtu, 15 Agu 2026, 11:52 WIB | Oleh: Haryo BronoChief Operating Officer, Commercialization, PT Anugerah Pharmindo Lestari, Ay Lie Widjaja, mengatakan kampanye tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memperluas akses terhadap informasi kesehatan berbasis sains.
“Tidak seorang pun seharusnya menghadapi tantangan obesitas seorang diri,” kata Ay Lie.
Menurut dia, kampanye tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memahami obesitas secara lebih tepat sekaligus mengambil langkah berikutnya dengan mencari dukungan dan penanganan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Penanganan Membutuhkan Pendekatan Jangka Panjang
Sebaiknya Anda baca juga:
Peluncuran kampanye juga ditandai dengan diskusi panel bertajuk “Berani Bicara Berat, Awali dengan Langkah yang Tepat”. Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah ahli, yakni Prof. Dr. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua HISOBI; Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI); serta dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI).
Para narasumber membahas obesitas dari perspektif medis, endokrinologi, gizi klinis, dan kesehatan masyarakat.
Ketua Umum PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, mengatakan penurunan berat badan bukan semata-mata persoalan kemauan individu. Menurut dia, tubuh memiliki mekanisme biologis yang secara alami mempertahankan berat badan. Kondisi tersebut membuat upaya mencapai penurunan berat badan yang signifikan dan berkelanjutan melalui perubahan gaya hidup saja dapat menjadi tantangan bagi sebagian orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Penanganan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang, dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi, bukan semata-mata berfokus pada pencapaian angka tertentu pada timbangan,” ujar Em Yunir.
Pandangan tersebut menunjukkan pentingnya melihat keberhasilan penanganan obesitas dari aspek kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya perubahan angka berat badan.
Tidak Ada Penanganan yang Berlaku untuk Semua Orang
Kompleksitas obesitas juga membuat penanganannya tidak dapat menggunakan pendekatan yang sama untuk setiap individu. Kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, perilaku, dan tujuan kesehatan seseorang dapat berbeda. Karena itu, strategi penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Ketua Pengurus Pusat PDGKI, dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, mengatakan asesmen gizi klinis dapat membantu menentukan strategi nutrisi berdasarkan kebutuhan dan kondisi kesehatan individu.
“Strategi tersebut kemudian dapat dilengkapi dengan perubahan perilaku, dukungan psikologis, dan terapi medis, sehingga membentuk pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mendukung kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!