Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kampanye “Berani Bicara Berat” Tegaskan Obesitas Sebagai Penyakit Kronis

📅 Sabtu, 15 Agu 2026, 11:52 WIB | Oleh:
 Kampanye “Berani Bicara Berat” Tegaskan Obesitas Sebagai Penyakit Kronis Doc: Koran Jakarta - Haryo Brono
Ket. Sesi foto bersama dalam peluncuran kampanye “Berani Bicara Berat” di Jakarta pada hari Jumat (14/8). Kampanye ini mendorong pemahaman bahwa obesitas merupakan penyakit kronis kompleks yang membutuhkan penanganan medis dan dukungan berkelanjutan.

JAKARTA - Dunia medis modern tidak lagi memandang obesitas sekadar "masalah penampilan" atau sekadar akibat kurang olahraga dan makan berlebihan. Obesitas secara resmi diakui dan dikategorikan sebagai penyakit kronis (bukan sekadar faktor risiko) ketika penumpukan lemak tubuh yang berlebihan sudah mengganggu fungsi normal tubuh dan berdampak buruk pada kesehatan.

Pengakuan obesitas sebagai penyakit jaringan tubuh terjadi bertahap oleh lembaga kesehatan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) – Tahun 1997: WHO secara resmi mendeklarasikan obesitas sebagai penyakit kronis (chronic disease) yang menjadi ancaman kesehatan global.

Hal itu disusul oleh American Medical Association (AMA) pada tahun 2013. Asosiasi medis terbesar di AS ini memutuskan dan mengategorikan obesitas sebagai penyakit kompleks dengan faktor genetik, fisiologis, dan lingkungan.

Lembaga seperti European Association for the Study of Obesity (EASO) dan berbagai organisasi dokter spesialis di seluruh dunia (termasuk Indonesia) kini sepakat memperlakukan obesitas sebagai kondisi medis yang membutuhkan penanganan klinis.

Menegaskan kembali obesitas sebagai penyakit kronis, PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), perusahaan Zuellig Pharma, meluncurkan kampanye edukasi kesehatan “Berani Bicara Berat” untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks.

Kampanye tersebut juga mendorong masyarakat yang hidup dengan obesitas untuk memperoleh informasi dan penanganan medis yang tepat melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip APL, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia mencapai 23,4 persen atau hampir satu dari empat orang dewasa. Angka prevalensi pada perempuan mencapai 31,2 persen, sedangkan pada laki-laki sebesar 15,7 persen.

Kondisi tersebut menjadi tantangan kesehatan masyarakat sekaligus berpotensi menimbulkan beban sosial dan ekonomi. Obesitas tidak hanya berkaitan dengan berat badan, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor, termasuk biologis, genetik, perilaku kesehatan, kondisi medis yang mendasari, serta lingkungan. Obesitas juga berkaitan dengan meningkatnya risiko sejumlah penyakit tidak menular, seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, stroke, dan beberapa jenis kanker.

Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dr. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengatakan pemahaman mengenai obesitas perlu diubah karena kondisi tersebut bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup.

“Obesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan terus berkembang di Indonesia,” ujar Dante di Jakarta pada konferensi pers peluncuran kampanye “Berani Bicara Berat” di Jakarta pada hari Jumat (14/8).

Menurut dia, penanganan obesitas perlu dibarengi dengan penguatan edukasi dan perubahan perilaku masyarakat agar individu yang hidup dengan obesitas dapat memperoleh penanganan yang sesuai.

Melawan Stigma terhadap Obesitas

APL menilai salah satu tantangan dalam penanganan obesitas di Indonesia adalah masih kuatnya anggapan bahwa kondisi tersebut merupakan persoalan tanggung jawab pribadi. Obesitas kerap dikaitkan dengan kurangnya disiplin diri atau pilihan gaya hidup yang dianggap tidak sehat.

Persepsi tersebut dapat memperkuat stigma sosial dan membuat sebagian individu enggan mencari dukungan klinis maupun penanganan medis. Stigma terkait berat badan juga dapat berdampak terhadap kesejahteraan psikologis dan perilaku kesehatan seseorang.

Melalui kampanye “Berani Bicara Berat”, APL berupaya mengubah persepsi tersebut dengan menempatkan obesitas sebagai penyakit kronis kompleks yang membutuhkan penanganan medis berkelanjutan serta dukungan dari tenaga kesehatan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
  • Percepatan Elektrifikasi, Presiden Umumkan Insentif Produksi 1 Juta Motor Listrik Dalam Negeri
    Preview komentar:
    Melihat keberanian pelaku usaha swasta seperti ALVA yang ...
Advertisement
injourney
Advertisement
bni-atasdetailmobile
Advertisement
astra2
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Advertisement
gaia musik festival
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Advertisement
gaia musik festival
Gempa Dahsyat M7,7 di Flores NTT Memicu Evakuasi Massal

Gempa Dahsyat M7,7 di Flores NTT Memicu Evakuasi Massal

15 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.