Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pariwisata Indonesia Butuh Evaluasi Menyeluruh

📅 Rabu, 05 Agu 2026, 03:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pariwisata Indonesia Butuh Evaluasi Menyeluruh Doc: antara
Ket. Daya Saing - Tiket Pesawat Mahal Hambat Wisata Domestik

Belanja wisatawan mampu menggerakkan berbagai sektor, mulai dari UMKM, transportasi, kuliner, ekonomi kreatif hingga penciptaan lapangan kerja.

Jakarta – Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menilai pemerintah perlu segera melakukan pembenahan menyeluruh terhadap kebijakan sektor pariwisata agar Indonesia tidak semakin tertinggal dalam persaingan regional. Meski jumlah kunjungan wisatawan mancanegara terus meningkat, berbagai persoalan mendasar dinilai masih menghambat daya saing industri, mulai dari mahalnya biaya penerbangan, tingginya harga avtur, hingga kebijakan bebas visa yang belum sepenuhnya memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional.

Ketua Umum ICPI Azril Azahari mengatakan terdapat sedikitnya empat persoalan utama yang perlu segera dievaluasi, yakni harga avtur, mahalnya tiket pesawat domestik, kebijakan bebas visa, serta belum optimalnya manfaat ekonomi yang diterima pelaku usaha lokal.

Menurutnya, harga avtur di Indonesia masih relatif lebih mahal dibandingkan negara-negara pesaing sehingga meningkatkan biaya operasional maskapai dan mengurangi minat maskapai asing membuka maupun menambah rute penerbangan ke Indonesia.

"Kalau dihitung, biaya avtur di Indonesia masih lebih mahal dan membebani biaya bahan bakar untuk kembali ke negara asal, sehingga memengaruhi keputusan maskapai untuk membuka rute ke Indonesia," kata Azril, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Selasa (4/8).

Ia juga menilai harga tiket pesawat domestik yang masih tinggi menjadi hambatan serius bagi pengembangan wisatawan nusantara, terutama ketika daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Program insentif pemerintah untuk menekan harga tiket dinilai sebagai langkah positif, namun efeknya masih terbatas karena hanya berlaku pada periode tertentu sehingga belum mampu memberikan kepastian bagi industri maupun masyarakat.

Selain persoalan transportasi, Azril meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan bebas visa kunjungan. Menurutnya, kebijakan tersebut tetap penting untuk menarik wisatawan asing, tetapi harus disertai pengawasan yang lebih ketat agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan Indonesia.

Ia mengusulkan penerapan prinsip resiprokal dalam pemberian fasilitas bebas visa kepada negara mitra sekaligus memperkuat pengawasan terhadap praktik shadow economy, yakni aktivitas ekonomi yang tidak tercatat dan tidak memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara.

"Bebas visa itu harus resiprokal. Jangan sampai justru memunculkan shadow economy yang merugikan negara," tegasnya.

Azril juga menyoroti masih besarnya potensi kebocoran manfaat ekonomi ketika wisatawan menggunakan layanan yang dikelola pihak asing. Kondisi tersebut membuat belanja wisatawan tidak sepenuhnya mengalir kepada pelaku usaha lokal maupun meningkatkan penerimaan pajak daerah.

Menurut ICPI, keberhasilan sektor pariwisata seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan atau tingkat okupansi hotel, tetapi juga dari besarnya multiplier effect terhadap perekonomian nasional.

"Data kita selama ini lebih banyak mencatat dampak langsung. Padahal yang perlu dihitung juga adalah dampak tidak langsung dan dampak lanjutan sehingga kontribusi riil pariwisata terhadap ekonomi dapat terlihat secara utuh," ujarnya.

Pembukaan Rute

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat konektivitas internasional melalui pembukaan berbagai rute penerbangan baru, termasuk penerbangan langsung SalamAir rute Muscat–Medan yang diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah menuju Sumatra Utara, khususnya Danau Toba.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
  • Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam
    Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih ...
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar
Rona
Miley Cyrus Umumkan Album B...

Yura Yunita Rilis Lagu Terbaru “Pertiwi”

1.5 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Yura Yunita Rilis Lagu Terb...
Luar Negeri
Uni Afrika Kutuk Keras Kude...
Advertisement
Ratusan Petani Tebu Gelar Aksi Dekat Istana Negara, Tuntut Kenaikan HPP dan Hapus HET Gula

Ratusan Petani Tebu Gelar Aksi Dekat Istana Negara, Tuntut Kenaikan HPP dan Hapus HET Gula

02 Sep 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.