Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Paradoks Beras: Produksi Tinggi, Risiko Mengintai

📅 Jumat, 26 Jun 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Paradoks Beras: Produksi Tinggi, Risiko Mengintai Doc: antara
Ket. Kemandirian Pangan - Diversifikasi Pangan Berbasis Potensi Lokal Perlu Diperkuat

Keberhasilan produksi nasional belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kesejahteraan di tingkat pelaku utama pertanian, sehingga reformasi tata niaga, penguatan nilai tambah, dan perlindungan petani mendesak dilakukan.

JAKARTA - Posisi Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara tak mencerminkan keberhasilan sektor pertanian secara menyeluruh. Tanpa penerapan praktik pertanian berkelanjutan, peningkatan produksi berisiko menimbulkan tekanan terhadap kualitas lahan, ketersediaan air, dan ketahanan pangan jangka panjang.

Di sisi lain, besarnya produksi juga seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani. Kenyataannya, banyak petani masih menghadapi persoalan rendahnya pendapatan, tingginya biaya produksi, keterbatasan akses pasar, serta regenerasi petani yang berjalan lambat.

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar, I Nengah Muliarta menilai capaian Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara menyimpan risiko jangka panjang sehingga dibutuhkan transformasi sektor pertanian. “Praktik intensifikasi yang bergantung pada pupuk kimia berlebihan telah menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan mengancam keberlanjutan produksi pangan,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (25/6).

Muliarta mendorong penerapan pertanian berkelanjutan berbasis input rendah (LEISA), termasuk pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami untuk memulihkan kualitas tanah. Dia juga menyoroti paradoks tingginya produksi beras nasional yang belum sejalan dengan kesejahteraan petani.

“Rendahnya pendapatan, sempitnya lahan, dan rantai niaga yang tidak adil dinilai dapat mempercepat alih fungsi lahan serta memperburuk krisis regenerasi petani,” tegasnya.

Selain itu, dia mengingatkan kebijakan yang terlalu berfokus pada beras membuat sistem pangan rentan terhadap perubahan iklim dan serangan hama. Karena itu, diversifikasi pangan berbasis potensi lokal seperti jagung, singkong, talas, dan sagu perlu diperkuat untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.

“Status sebagai produsen beras terbesar hanya akan bermakna jika disertai pemulihan kualitas lahan, kesejahteraan petani, dan sistem pangan yang lebih tangguh,” katanya.

Produksi Beras

Seperti diketahui, Food and Agriculture Organization (FAO) menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton, meningkat sekitar 4 juta ton atau 13,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 30,62 juta ton.

Selain itu, FAO memperkirakan stok beras Indonesia berpotensi meningkat menjadi 7,8 juta ton pada periode 2026-2027. Saat ini, pemerintah mencatat stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah melampaui 5 juta ton.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian menilai capaian tersebut perlu diikuti peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani agar dapat berkelanjutan dalam jangka panjang. Menurutnya, keunggulan Indonesia masih ditopang oleh luasnya lahan sawah, sementara produktivitas padi nasional sekitar 5,2 ton per hektare masih tertinggal dari Vietnam yang mencapai sekitar 6 ton per hektare.

“Karena itu, pemerintah perlu mengalihkan fokus dari sekadar mengejar volume produksi menuju peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Eliza menegaskan tantangan ke depan, seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan regenerasi petani, menuntut pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas petani, serta praktik pertanian yang lebih efisien. Dengan demikian, ketahanan pangan nasional tidak hanya bertumpu pada besarnya produksi, tetapi juga pada keberlanjutan dan daya saing sektor pertanian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Gerakan Pasar Ikan Murah Akan Digelar Pemprov Kaltim Berkala, Upaya Tekan "Stunting" di Berau

Gerakan Pasar Ikan Murah Akan Digelar Pemprov Kaltim Berkala, Upaya Tekan "Stunting" di Berau

23 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.