Rupiah Masih Rawan - 2 September 2026
📅 Rabu, 02 Sep 2026, 08:45 WIB | Oleh: Muchamad IsmailJAKARTA – Pelemahan rupiah berpotensi berlanjut di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Te ngah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Investor cende rung meningkatkan permin taan terhadap aset safe haven seperti dollar AS.
Selain itu, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dapat memperbesar tekanan terhadap ekonomi negara berkembang.
Kondisi tersebut membuat ruang pe nguatan rupiah menjadi lebih terbatas dalam perdagangan tengah pekan ini.
Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan kurs ru piah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Rabu (2/9), ber gerak fluktuatif dengan kecen derungan melemah di kisaran 17.740- 17.790 rupiah per dol lar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, nilai tukar ru piah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (1/9), bergerak mele mah 22 poin atau 0,12 persen dari sehari sebelumnya men jadi 17.744 rupiah per dollar AS.
“Pelemahan rupiah dipe ngaruhi kenaikan harga mi nyak menjadi 91 dollar AS per barel seiring eskalasi konflik AS (Amerika Serikat) dengan Iran,” ujar Analis Bank Woori Saudara Rully Nova.
Pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pu lau Larak pada Minggu (30/8), yang menandai serangan per tama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli.
Operasi ter sebut, yang dilakukan setelah periode jeda selama sebulan dalam keterlibatan militer langsung, menargetkan sistem yang disinyalir sedang disiap kan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz.
Sebagai respons, Sputnik mengungkapkan bahwa pasu kan bersenjata Iran dilaporkan melancarkan serangan terha dap posisi militer AS di Yorda nia.
Sentimen lain berasal dari meningkatnya ekspektasi infla si dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS.
“Ekspektasi inflasi AS bu lanan 0,39 persen dan 3,6 per sen tahunan.
Yield obligasi pe merintah AS 10 tahun naik 5,8 bps (basis points) menjadi 4,77 persen dan 20 tahun naik 6,7 bps menjadi 5,27 persen,” ung kap Rully.
Meningkatnya ekspekta si inflasi di AS dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS dapat memperkuat daya tarik aset berbasis dollar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!