Kendali AS di Hormuz Beri Kepastian Keamanan dan Tarif
📅 Jumat, 26 Jun 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Peneliti dari Pusat Riset dan Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut, menegaskan bahwa kewenangan penuh atas Selat Hormuz saat ini seharusnya berada di tangan Amerika Serikat (AS).
Sebab itu, dia memandang AS memiliki legitimasi moral dan militer untuk mengenakan biaya, asuransi, maupun pungutan lain di jalur pelayaran paling vital dunia itu.
“Pihak yang berhak mengenakan biaya, asuransi atau apa pun pungutan lain di Hormuz ya hanya AS, karena mereka lah yang mematahkan kekuatan Iran di sana,” kata Siprianus kepada media, Kamis (25/6).
Upaya AS memblokade jalur pelayaran di Selat Hormuz terutama kepada kapal-kapal yang digunakan untuk mengirim minyak Iran, terbukti akhirnya memaksa Iran ke jalur perundingan dan kesediaan negara tersebut membuka Selat Hormuz bagi jalur pelayaran umum.
“AS pernah mengatakan kalau Iran mengganggu Hormuz lagi, maka akan kembali diserang,” kata Siprianus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain mampu mematahkan Iran, dia juga menyoroti keengganan sekutu AS yaitu negara-negara Eropa dan Jepang yang tidak mau ikut campur di Selat Hormuz. Negara-negara itu selama ini diuntungkan dari stabilitas yang dijaga AS, tetapi tidak ikut menanggung beban ketika terjadi konflik.
“Dulu saat butuh dukungan untuk perang, negara-negara Uni Eropa dan Jepang tidak mau membantu, makanya sekarang sewajarnya lah kalau mereka harus bayar tarif ketika melintas.
Peringatan serupa juga disampaikan kepada Tiongkok. Menurut Siprianus, jika Beijing mengganggu stabilitas Taiwan, maka konsekuensinya adalah akses kapal minyak Tiongkok melalui Hormuz harus dibatasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tiongkok juga supaya jangan ganggu Taiwan kalau ganggu kapal minyak kamu gak boleh lewat Hormuz,” katanya.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melewati selat sepanjang 39 km di titik tersempitnya itu. Siapa pun yang mengendalikan Hormuz, secara otomatis memegang kendali atas harga energi global.
Penempatan kendali penuh Selat Hormuz di bawah AS akan memberikan kepastian keamanan dan kepastian tarif. Hal itu dinilainya lebih baik dibanding situasi status quo yang rawan dipolitisasi konflik Iran, kelompok proksi, maupun persaingan kekuatan besar lain.
“Kalau aturannya jelas, tarifnya jelas, asuransinya jelas, maka perdagangan minyak dunia lebih stabil. Jangan sampai tiap ada konflik, harga minyak langsung meledak dan negara importir seperti Indonesia yang kena imbasnya,” pungkasnya.
Instrumen Ekonomi
Sementara itu, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menilai dinamika terbaru di Selat Hormuz menunjukkan bahwa jalur perdagangan global kini tidak lagi hanya menjadi isu keamanan, tetapi juga instrumen kekuatan ekonomi dan geopolitik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!